nah, sekarang kamu sedang dihadapkan dengan masalah.
inget ini nggak seberapa jika dibanding menuruti egomu
doa ibundamu selalu menyertaimu, selalu. Dan itu bekerja, tidak ada yang bisa menandingi restu orangtua, dan Semesta sedang menunjukkan cara kerjanya.. kamu boleh lemah, boleh menangis, silahkan... tapi ingat secukupnya, selebihnya ayo bangkit, lanjutkan, didepan ada solusi. jangan kalah dengan masalah. mungkin kamu membenci dirimu sendiri ketika kamu sedang lemah, kamu tidak menyukai keadaan seperti itu kan? ayo nangis satu jam aja, poll. poll pollin aja gakpapa.. abis itu jangan nangis lagi :)
Itu buat pembelajaran ya, jangan sama lagi. Sebenarnya kamu sudah menyadarinya kok, keinginanmu yang selalu ditentang mamah.. mungkin mamah emang gak suka kamu terbang tinggi.. mamah lebih suka kamu ada di dekatnya..
mah, aku sayang mamah
tapi aku juga ingin terbang menggapai citaku...
mah, aku paham dan berusaha memahami kultur dimana aku dibesarkan.
mah, aku kuat, aku kuat ma... walau aku sempat lepas kendali.
tapi aku sadar untuk segera menyadari bahwa itu semua adalah karunia Allah SWT untuk hidupku di dunia. Aku tidak akan menyalahkan siapapun termasuk diriku. Ini pendewasaan mah, aku harus melalui prosesnya.
mah, jika aku boleh jujur, aku sempat merasa iri dengan orang diluar sana ma...
aku nggak boleh kayak gitu kan ma? iya tapi aku serius, aku iri ma.. sekuat diriku mengusirnya, membunuhnya ma.. lagi-lagi aku menyadarinya..lekas-lekas kembali ke tujuan utama, kembali ke jalan.
mamah, abah.. aku yakin jika jalanku esok akan indah pada waktunya. berkat doa mamah abah, aku akan tetap mendoakan. Mamah Abah sehat-sehat, panjang umur juga, nanti kita reuni bareng di surga ya. Jaga diri baik-baik keluarga kita semua. Karena esok dihadapan Allah kelak, amalan masing-masing yang akan menyelamatkan kita... tapi aku masih berharap dengan sangat, Allah sisihkan surganya untuk keluarga kecil kita Mah, Bah
Selasa, 25 Februari 2020
0 Bersih kilap seperti nampak kacaa
Pernah merasakan bagaimana nikmatnya "memberi" ?
Iya, seperti aku rasakan, memberi itu menyehatkan ya ternyata.
Kalau belum percaya coba saja. Memberi dan berbagi tak harus dengan sesama manusia, sesama makhluknya pun tak mengapa. Hewan, tumbuhan, lingkungan semuanya jika kita menyadari lebih lanjut akan memunculkan sebuah peka. Kepekaan yang nantinya akan melunakkan hati yang keras.
Orang yang sakit ketika berpikir untuk memberi justru akan melahirkan sebuah perasaan dan energi positif sehingga bisa jadi sakitnya diangkat dan doanya dimustajab.
Mungkin kalian pernah mendengar cerita orang yang sakit keras, lantas ketika ia bersedekah, sebuah keniscayaan penyakitnya sembuh.
Jadi ingat perjuangannya Jendral Soedirman ya.. beliau yang tetap berjihad, berperang melawan penjajah meski sakitnya parah, menyusuri hutan, gunung, desa-desa, berjalan dengan pasukannya dalam tandu. Semangatnya, gigihnya saat itu. yah entahlah kalau dibayangkan. aku saja yang mendaki gunung dengan tujuan bukan untuk Indonesia Merdeka saja payah. Setahuku beliau sakit jantung atau paru-paru. Atau cerita pak Hasan Al-Banna yang tetap berangkat mengisi ceramah, dalam rangka dakwah walau sakit yang mengharuskan beliau dipandu. Nyatanya semangatnya menyembuhkan. Dan mungkin benar bila jiwa itu besar, tubuh tak akan sanggup melawannya.
Sebaliknya.. bila hati kita dipenuhi penyakit. Tak ada bedanya dengan orang sakit.
Orang sehat namun tidak pernah mencoba untuk memberi manfaat, bukankah ia akan merasakan hal yang "tidak tenang atau tidak nyaman" ? boleh jadi begitu...
Orang yang berjiwa besar, maka ia tak akan menyerah terhadap masalah kecil. coba kita sedikit memakai rumus "peka" di awal tadi.. Perhatikan orang-orang disekeliling kita, adakah yang baru terkena masalah yang mungkin itu adalah hal sepele namun terlalu dibesar-besarkan? terlalu mengumbar sana-sini, mudah hengkang, rentan jikalau masukkannya tak diterima, tak dianggap, gagasannya tak dipandang. Berkoar sana-sini, lalu pura-pura paling sibuk, lebih tepatnya sok sibuk. yahh lempeng deh. Kita jangan jadi orang seperti itu ya? toxic kalau orang bilang.
Hati itu seperti cermin, iya kan? kalau cerminnya jernih maka ia akan memantulkan yang jernih pula. kalau hatinya kita kotor, ya bersihkanlah. Begitu kan cara kerjanya? hehe maaf nih bahasaku kaku gimana gitu, itung-itung latihan nulis. Besok kalao nulis skrepsong biar des-des :D.
Terimakasih ya kamu, udah baca sampai akhir.
Iya, seperti aku rasakan, memberi itu menyehatkan ya ternyata.
Kalau belum percaya coba saja. Memberi dan berbagi tak harus dengan sesama manusia, sesama makhluknya pun tak mengapa. Hewan, tumbuhan, lingkungan semuanya jika kita menyadari lebih lanjut akan memunculkan sebuah peka. Kepekaan yang nantinya akan melunakkan hati yang keras.
Orang yang sakit ketika berpikir untuk memberi justru akan melahirkan sebuah perasaan dan energi positif sehingga bisa jadi sakitnya diangkat dan doanya dimustajab.
Mungkin kalian pernah mendengar cerita orang yang sakit keras, lantas ketika ia bersedekah, sebuah keniscayaan penyakitnya sembuh.
Jadi ingat perjuangannya Jendral Soedirman ya.. beliau yang tetap berjihad, berperang melawan penjajah meski sakitnya parah, menyusuri hutan, gunung, desa-desa, berjalan dengan pasukannya dalam tandu. Semangatnya, gigihnya saat itu. yah entahlah kalau dibayangkan. aku saja yang mendaki gunung dengan tujuan bukan untuk Indonesia Merdeka saja payah. Setahuku beliau sakit jantung atau paru-paru. Atau cerita pak Hasan Al-Banna yang tetap berangkat mengisi ceramah, dalam rangka dakwah walau sakit yang mengharuskan beliau dipandu. Nyatanya semangatnya menyembuhkan. Dan mungkin benar bila jiwa itu besar, tubuh tak akan sanggup melawannya.
Sebaliknya.. bila hati kita dipenuhi penyakit. Tak ada bedanya dengan orang sakit.
Orang sehat namun tidak pernah mencoba untuk memberi manfaat, bukankah ia akan merasakan hal yang "tidak tenang atau tidak nyaman" ? boleh jadi begitu...
Orang yang berjiwa besar, maka ia tak akan menyerah terhadap masalah kecil. coba kita sedikit memakai rumus "peka" di awal tadi.. Perhatikan orang-orang disekeliling kita, adakah yang baru terkena masalah yang mungkin itu adalah hal sepele namun terlalu dibesar-besarkan? terlalu mengumbar sana-sini, mudah hengkang, rentan jikalau masukkannya tak diterima, tak dianggap, gagasannya tak dipandang. Berkoar sana-sini, lalu pura-pura paling sibuk, lebih tepatnya sok sibuk. yahh lempeng deh. Kita jangan jadi orang seperti itu ya? toxic kalau orang bilang.
Hati itu seperti cermin, iya kan? kalau cerminnya jernih maka ia akan memantulkan yang jernih pula. kalau hatinya kita kotor, ya bersihkanlah. Begitu kan cara kerjanya? hehe maaf nih bahasaku kaku gimana gitu, itung-itung latihan nulis. Besok kalao nulis skrepsong biar des-des :D.
Terimakasih ya kamu, udah baca sampai akhir.
Selasa, 04 Februari 2020
0 Kamu itu layak tersenyum.
Ketika kamu bangun tidur, apa yang pertama kali kau lakukan? menyucek mata? duduk ? mengecek ponsel? atau parahnya lagi memejam kembali..
Ketika kita bangun tidur, cobalah untuk sadar.. coba pikirkan kembali apakah semua masih sama.. dan ketika kamu sadar, tersenyumlah. karena pada hari itu kamu mempunyai pilihan. setidaknya kalau dirangkum, kamu memiliki dua pilihan. pilihan menjadi baik atau sebaliknya.
Ketika kamu masih melihat kedua orangtuamu, tersenyumlah. karena diluar sana banyak teman kita yang sudah tak bisa lagi menatap ayah ibundanya.
Ketika kamu akan berangkat bekerja ataupun kuliah, tersenyumlah. sebab diluar sana masih banyak orang yang tidak bisa membayar uang kuliah, banyak orang masih belum memiliki pekerjaan,
Ketika kamu mengalami kesulitan yang pernah terjadi, tersenyumlah. sebab kesulitan itu akan segera berlalu dan semoga masalahmu tak akan terulang untuk kedua kalinya.
Ketika kamu mengalami masa-masa sulit. ayo tersenyum lagi.. karena kamu masih memiliki Allah yang Maha Agung, menangispun juga tak apa, karena kita hambaNya, Allah yang bisa menolong kita setiap saat. bahkan ketika kamu gagal pada urusan tertentu, teruslah tersenyum. karena kamu masih memiliki kesempatan tanpa batas untuk kembali berusaha dan berupaya.
dan begitu seterusnya..
sebab besok kamu masih akan menjumpai matahari bersinar, dan kamu masih bisa memilih hal yang baik.
oiya, aku bicara tentang kamu dan aku, dan kita semua.
kamu boleh sedih, tapi kamu juga harus kuat.



