Rabu, 15 April 2020

0 Cuma Sakit Flu, tapi....

Jadi begini, ini ceritaku.
Mau baca?



Ini adalah kisah yang saya alami sendiri. Kejadian bermula saat saya masih aktif mengikuti perkuliahan disalah satu universitas negri di Kota Solo. Sebut saja Ultramen Ning Solo. Waktu itu saya masih manusia dan seperti biasa masih sibuk-sibuknya (sok sibuk sebenarnya) mengikuti beberapa agenda rapat. Saat itu, Solo belum ditetpakan sebagai status kejadian luar biasa (KLB) walau sempat kudengar isu pasien positif corona di RS. Moewardi. Jadi ya masih mlancong sana-sini aja ya kan. 

Kebetulan agenda malam Kamis ada rapat untuk persiapan KKN dibulan Juli-Agustus nanti, sebelumnya saya pesan steak dan segelas es teh kampul disalah satu tempat makan daerah Mojosongo. Entah perasaan tenggorakan saya terasa sakit seketika setelah menyantap keduanya. Tapi tetap lanjuuuutkan makaann. Keesokan harinya, benar. Tenggorokan saya tambah sakitnya, alhasil hanya membeli obat pereda nyeri tenggorokan di apotek dekat kontrakan. Saya masih berada di Solo karena masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan hingga tiba saatnya..akupun melihat.. cintaku yang khianat cintaku berkhianat eee keblabasan nyanyi, ketauan pernah dikhianatin. Hingga tibalah pemerintah kota Surakarta menyatakan kotanya berstatus KLB virus Corona pada Jum’at, 13 Maret 2020 setelah kabar resmi adanya warga Solo yang terjangkit virus tersebut. 

Yang ada dipikiran saya saat itu hanyalah bagaimana nasib perkuliahan nantinya (heleh padahal mah ga mikirin apa-apa, mikirin kamu ajalah wkwk). Setelah akhirnya kampus menurunkan surat edaran antisipasi penyebaran Chovid-19 akhirnya saya luntang-lantung mau ngapain ya hhh. Saat itu saya masih bermalam minggu di kontrakan, mulailah badan saya merasa tidak nyaman. Dalam sehari tak terhitung bersin berapa kali, endingnya meler tiada henti (auwachh pilek ges pilek) disusul batuk dan demam panas tinggi. Saya memutuskan untuk pulang kerumah keesokan harinya. Masih santuy dan tidak berpikir apa-apa bahkan soal corona, tidak terbesit. Hanya saja, walau saya cuek-cuek gini..tapi endingnya ada rasa cemas juga. Saya mengabari bulek saya terlebih dahulu kalau saya mau pulang dan merasa tidak enak badan. Eh malah bulek saya yang over panik.

Sebelum sampai rumah terbesit untuk membeli masker dan tissue. Masih kuat walau motoran sendirian disamping badan terasa gembrebek adem panas tak karuan. Dan akhirnya mampirlah di apotek pinggir jalan dekat rumah. “Mbak ada masker?” tanyaku , “Ada mbak, tapi sekarang masker langka” jawab si mbaknya apoteker. “Ya berapa harganya mba” jawabku sambil menahan hidungku agar tak keluar meler wkwkw . “Per biji 8 ribu mba” Behh naiknya cepet banget buesett, padahal sih biasanya harga normal perbiji hanya 1.000-1.500 sudah dapat satu masker eceran. kan langka dillaaa wajar dongg gimana sihh. asudahlah gapapa, buat jaga-jaga biar ga nularin orang rumah, bukan begitu kawan? Ya walau lumayan buat beli semangkuk mie ayam masih dapet tuh. 1 masker = semangkuk mie ayam. Huhuhu 

Saya tak menyangka begitu meletakkan helm diruang tamu, bulek saya datang kerumah dan berdiri diujung pintu seraya berkata “Kamu sakit opo Nduk? Nek watuk pilek lan panas gek ndang perikso, bahaya mudeng pora. Solo corona” sambil menutup hidungnya. “Enggih bulek jawabku sentrap-sentrup. Pilek. Dalam hati terasa sakit mendengarnya dan cemas itu muncul kembali. Saya bingung harus bagaimana, dan keputusan terdekat yang bisa ambil adalah mengurung diri di kamar !!! Saya mulai menggali informasi lebih mendalam mengenai virus ini, diberbagai media massa, pamflet, channel berisi chovid-19 saya babat habis. Gejala, perbedaan ciri, penanganan, dan lain sebagainya. Saya juga chat teman-teman dan sahabat saya, bertanya pendapat mereka baiknya bagiamana. Ada tiga tipe saran kurang lebih yang saya simpulkan. Pertama, kebanyakan sebagian teman-teman mengusulkan untuk periksa terlebih dahulu ke puskesmas terdekat, tapi ada sebagian lainnya malah mengusulkan saya untuk cek chovid di RS. Moewardi untuk lebih meyakinkan sakit saya.
“Sebaiknya, kamu periksa ke sana saja. Demi kebaikan dirimu dan orang lain juga tak ada salahnya mencoba”. Gila saja pikirku. Hah masak aku periksa ke Solo lagi? Disaat KLB seperti ini? Tidak. Disaat seperti itu, pikiran berkecambuk, khawatir, cemas. Saya mulai membayangkan hal-hal menyeramkan diluar sana. Dan mulai membatasi diri dengan orang rumah, bahkan saya menunggu malam tiba untuk pergi kekamar mandi ketika semua sudah tertidur lelap. Untuk makan kuminta mereka menaruh didepan pintu kamar saja. Tak mau merepotkan mereka dan menambah kekhawatiran orangtua ketika mereka menyuruh untuk keluar kamar, hanya bisa menjawab “Takut nularin ma, dikamar aja gapapa”.

 Begitulah hari-hari saya yang begitu menyedihkan. Hiksss cedihh ditengah berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanyalah flu biasa gegara minum es kampul, yang nantinya akan sembuh sendirinya. Pikiran masih saja was-was karena saat masih berada di Solo, saya masih keluyuran ke beberapa tempat dimana disitulah daerah yang dikatakan pasien positif virus corona.  Hanya saja mengenal perbedaan flu yang saya alami dengan chovid ini agak mengalami kendala. Demam saya sudah menurun, tetapi saya masih sakit tenggorokan, pilek, dan batuk. Tapi juga merasakan dada sesak. Ini yang menjadi masalah gaiss. Saya merasa sesak, tetapi tidak begitu panas. Apakah karena batuk yang saya alami ini agak berat hingga terasa sesak?  Adapula yang menyarankan dengan begitu menenangkannya. Tak lain dan tak bukan ialah sahabat saya.
“Sudahlah jangan terlalu panik dan terlalu dipikirkan, itu hanya flu biasa. Kamu akan sembuh dengan sendirinya. Pesanku segera periksa, berobat. Jangan mengurung diri dengan sangkaan mu sendiri. Yang penting jaga pola makan, istirahat cukup, minum obat, dan tetap dirumah aja jangan kemana-mana dulu”. 

Ah sungguh menenangkan walaupun hal itu saran yang bisa dikatakan sederhana tetapi mampu meredam stres saya disaat seperti ini. Oiya saya hampir 3-4 hari merasakan tak tenang disamping flu yang tak kunjung mereda dan tugas kuliah online yang naudzubillah ga ada akhlak di pekan pertama. Sampai muncul sariawan dibeberapa tempat. (Maklum keturunan gen babe yang rajin sariawan, apalagi dibarengin stres beuhh suka jama’ah)
Dari masukan teman-teman itulah saya berpikir bahwa maksud mereka semuanya sebenarnya sangatlah baik. Namun perasaan kitalah yang mampu menerjemahkan mana yang sekiranya cocok dan pas untuk dilakukan. Bahkan saran yang baik sekalipun boleh jadi berdampak sebaliknya jika hal itu tak sesuai dengan hati nurani kita. Jadi saranku (kok malah ngasih saran sich) jika kamu sakit saat-saat kondisi seperti ini, apalagi dengan gejala sakit flu, demam panas, batuk dll. Please berceritalah dengan orang yang bisa kamu percaya. Karena stigma si chovid ini emang bener-bener bikin kita jadi celimpung wkwkw kalo gak kuat. Apalagi ditengah-tengah masyarakat yang notabennya siap siaga dan ya begitulah yaa. 

Jaga kesehatan yaa..
Jangan suka sakit, karena Allah menyukai hambanya yang kuat. Kalau kuat ibadahnya kan lancar :)
Oiya teruntuk yang sudah mendoakan cepat sembuh, makasih kalian semua hehe. Dapet semangat buat sembuh lo itu tuh berharga <3

0 PETRIKOR


Di stasiun pukul satu
Kutengok jam usang bertengger, pada dinding-dinding kusam termakan usia
Masih kuingat siaran televisi nasional, membahas linimasa penjuru dunia
Ya, virus kranjingan berinisial “C” itu
Katanya telah sampai di negeri seberang, tak peduli waktu terus berlari
Bunda telah memanggilku untuk pulang !
                               
Jiwaku tersengat kerumunan, berharap si baja hitam kunjung datang
Berbisik rindu akan kampung halaman
Sudah lewat pukul satu
Dini hari masih termangu, digerbong kereta dekat pintu
Siangku terasa cepat, tergantikan gelap karam
Sarapanku sekedar pagi yang sirna terbangun dari lelapnya malam

Disepanjang perjalanan menuju peraduan
Tetes air menggenang melewati jendela bisu
Harum aroma petrikor menusuk-nusuk cuping hidung, bersetubuh dengan musim penghujan
Kiranya sudut semesta sedang diberi berkah

Tak ada raut wajah yang berkerut
Sepasang muda-mudi bercumbu rayu diseberang kursiku,
Diam kulihat terasa membelenggu
Atau seorang ibu dengan anaknya yang lucu, glamor terbasuh pakaiannya
Malam semakin sunyi, bunyi kuda besi berderak mengalahi detak jantungku
Dug dug dug

Hangat uap-uap dan sorot mencekam ketika bunyi Bul-bul terdengar
Suara berdesit tanda pemberhentian segera tiba
Baju berseragam tertutup rapat itu menelisik masuk, membangunkan penumpang
Seakan menodong siapapun yang  menghalang.
Ada apa gerangan?

Belum sampai di ubun-ubun kota
Sesuatu telah terkurung dalam rentangan waktu
Dunia tidak lagi meringis, dunia menangis bunda!

Ini kisah pilu, lebih sakit mana dari nyawa yang dikuliti?
Nun jauh diseluk kehidupan, seolah peti mati sudah disiapkan
Manusia-manusia itu pergi kemana? Ketika jasad dan ruh berpisah.
Katamu, mereka memilki ruang tersendiri
Dibilik mana aku bisa menemukannya bunda?
Dijendela-jendela langit yang entah berapa, jawabmu.
Jendela itu seakan cemas ada bulan tertutup awan

Lalu mesin waktu melesat membawa pada sebidang tanah, bukan satu lagi.
Puluhan bahkan ribuan
Merah memayu segar, berpendar berebut cahaya sore.
Angin menerbangkan buhul-buhul semerbak kelopak bunga jatuh,
Tepat disisimu.Sisi kuburmu.

Kematian bagai digit angka yang bebas dimanipulasikan
Keluarga yang ditinggalkan
Semua seakan berakhir ditahun pilu ini

Bunda, izinkan aku berkeluh dengan mataku yang memerah
Tetes air ini adalah tanda pasrah selesai tetirah
Menjalani takdir Sang Maha Pemurah
Entah sampai kapan suram ini berlalu, bumi pun berdesit menjerit dijelajahinya
Maka, lekaslah berlalu

0 Dalgona di Musim Corona


Musik indie mengalun dari kotak suara caffe bergaya eropa itu,
manusia satu itu tengah duduk
menikmati daging, keju, dan saus betabur wijen, sepertinya.
tak lupa. Bukan dalgona tapi choco-latte apalah itu
sedang tangan kirinya menggerakkan layar seluler genggamnya
tak lebih tak kurang.
betah saja
isinya ya itu-itu,
brand kekikian, merk dagang, compass, gosip panas, selebgram hingga terbesit Kekeyi atau Dinda Safay? Paling pol sih paid promote yang tak kunjung punah memenuhi ruang timeline medsos sih. Iya gak nih. heheheh
Mungkin sedikit muak dan membosankan namun masih saja ditontonnya sampai habis. Mungkin ada beberapa notice bermanfaat yang setidaknya kita nanti-nanti atau cukup tahu saja.
Jadi apa namanya?
harus dengan istilah kekinian rupanya untuk menjelaskan.
wagelasehhh
sesajen panglipur atau nasihat tancap mang. Tak apa iri asalkan tidak terlalu kek(iri)an
"tak mengapalah asal ada angin segar karena hidup juga perlu pencitraan" ujarnya sembari berkata "hehehe"
seadil-adilnya penilaian toh juga penilaian Tuhan.
Punten, Bapak-Ibu Dosen juga ndak terlibat kok. eh santuy..
jadi teringat nilai IPK nih.
yuk yuk cerita, bolehlah mupung masih kuliah online nih.
gimana? baik saja kan?
Sampai kapan ya?
Kamu sedih? Ya pernahlah semuanya juga begitu. 
Tatanan berubah. 
Betapa tidak?, saat ini kita memang seolah tidak memiliki gambaran tentang bagaimana hari-hari kita di depan akan seperti apa. Tidak hanya itu, kita pun sedang dipaksa akrab dengan berbagai ketidakpastian. Rasanya, semua serba tanda tanya, entah apa dan bagaimana jawabannya. Ada kelulusan yang entah ditunda sampai kapan. Ada sidang tugas akhir yang entah bagaimana bisa dikejar. Ada pekerjaan yang hilang, yang entah kapan penggantinya datang. ada agenda yang entah ditunda atau malah ditiadakan. menunggu pengganti yang tepat. Ada pula ketetapan-ketetapan lain yang kita tunggu, namun tak pernah ada yang pasti tentang kapankah ia akan datang. Apakah kamu sedang merasakannya? Hal apa yang kini sedang kamu tunggu dan sudah mulai meresahkanmu? Jalankan dulu apa-apa yang menurut kata hati pasti.

Kalau kita mengedepankan emosi dalam berpikir mengenai segala ketetapan takdir atas diri kita saat ini, mudah sekali kiranya bagi kita untuk setuju bahwa semua yang tak sesuai dengan apa yang pernah kita doakan, harapkan, dan rencanakan ini memang sebab wabah Chovid-19. namun setiap dari masing-masing individu, pasti memiliki sudut pandang yang berbeda-beda dalam mengartikannya bukan?
Segala ketetapan takdir-Nya atas diri kita sudah ditetapkan-Nya dengan sempurna sedemikian rupa, bahkan sebelum kita terlahir ke dunia. Dalam hadist At-Thirmidzi bahkan disebutkan bahwa berkenaan dengan hal-hal seperti ini, pena telah diangkat dan tintanya pun telah mengering. Sudah menjadi bagian dari ketetapan takdir. Tanggal sidang, kelulusan, menikah, naik gaji, menerima pekerjaan baru, dst, semua sudah Allah tetapkan. Maka, tidak produktif kiranya jika kita saat ini sibuk menyalahkan Chovid-19 atau bahkan menyangkal takdir. Sebaliknya, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah tetap menuggu dengan sabar dan tetap berupaya lagi, berdoa lagi. Iya berdoa. Allah tidak akan mendatangkan melainkan juga memberikan penawar. 

Berbaik sangka atas segala yang sudah menjadi ketetapanNya. Sahabat Umar bin Khattab pun pernah berkata,
“Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”

Kuat ya, lakukan apapun yang kamu bisa dan bermanfaat bagi sesama :)

 
back to top