Rabu, 15 April 2020

0 PETRIKOR


Di stasiun pukul satu
Kutengok jam usang bertengger, pada dinding-dinding kusam termakan usia
Masih kuingat siaran televisi nasional, membahas linimasa penjuru dunia
Ya, virus kranjingan berinisial “C” itu
Katanya telah sampai di negeri seberang, tak peduli waktu terus berlari
Bunda telah memanggilku untuk pulang !
                               
Jiwaku tersengat kerumunan, berharap si baja hitam kunjung datang
Berbisik rindu akan kampung halaman
Sudah lewat pukul satu
Dini hari masih termangu, digerbong kereta dekat pintu
Siangku terasa cepat, tergantikan gelap karam
Sarapanku sekedar pagi yang sirna terbangun dari lelapnya malam

Disepanjang perjalanan menuju peraduan
Tetes air menggenang melewati jendela bisu
Harum aroma petrikor menusuk-nusuk cuping hidung, bersetubuh dengan musim penghujan
Kiranya sudut semesta sedang diberi berkah

Tak ada raut wajah yang berkerut
Sepasang muda-mudi bercumbu rayu diseberang kursiku,
Diam kulihat terasa membelenggu
Atau seorang ibu dengan anaknya yang lucu, glamor terbasuh pakaiannya
Malam semakin sunyi, bunyi kuda besi berderak mengalahi detak jantungku
Dug dug dug

Hangat uap-uap dan sorot mencekam ketika bunyi Bul-bul terdengar
Suara berdesit tanda pemberhentian segera tiba
Baju berseragam tertutup rapat itu menelisik masuk, membangunkan penumpang
Seakan menodong siapapun yang  menghalang.
Ada apa gerangan?

Belum sampai di ubun-ubun kota
Sesuatu telah terkurung dalam rentangan waktu
Dunia tidak lagi meringis, dunia menangis bunda!

Ini kisah pilu, lebih sakit mana dari nyawa yang dikuliti?
Nun jauh diseluk kehidupan, seolah peti mati sudah disiapkan
Manusia-manusia itu pergi kemana? Ketika jasad dan ruh berpisah.
Katamu, mereka memilki ruang tersendiri
Dibilik mana aku bisa menemukannya bunda?
Dijendela-jendela langit yang entah berapa, jawabmu.
Jendela itu seakan cemas ada bulan tertutup awan

Lalu mesin waktu melesat membawa pada sebidang tanah, bukan satu lagi.
Puluhan bahkan ribuan
Merah memayu segar, berpendar berebut cahaya sore.
Angin menerbangkan buhul-buhul semerbak kelopak bunga jatuh,
Tepat disisimu.Sisi kuburmu.

Kematian bagai digit angka yang bebas dimanipulasikan
Keluarga yang ditinggalkan
Semua seakan berakhir ditahun pilu ini

Bunda, izinkan aku berkeluh dengan mataku yang memerah
Tetes air ini adalah tanda pasrah selesai tetirah
Menjalani takdir Sang Maha Pemurah
Entah sampai kapan suram ini berlalu, bumi pun berdesit menjerit dijelajahinya
Maka, lekaslah berlalu

About the Author

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions. If you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Twitter username

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top