Di stasiun pukul satu
Kutengok jam usang
bertengger, pada dinding-dinding kusam termakan usia
Masih kuingat siaran
televisi nasional, membahas linimasa penjuru dunia
Ya, virus kranjingan berinisial
“C” itu
Katanya telah sampai di
negeri seberang, tak peduli waktu terus berlari
Bunda telah memanggilku
untuk pulang !
Jiwaku tersengat
kerumunan, berharap si baja hitam kunjung datang
Berbisik rindu akan
kampung halaman
Sudah lewat pukul satu
Dini hari masih termangu,
digerbong kereta dekat pintu
Siangku terasa cepat,
tergantikan gelap karam
Sarapanku sekedar pagi yang sirna terbangun dari
lelapnya malam
Disepanjang perjalanan
menuju peraduan
Tetes air menggenang
melewati jendela bisu
Harum aroma petrikor
menusuk-nusuk cuping hidung, bersetubuh dengan musim penghujan
Kiranya sudut semesta
sedang diberi berkah
Tak ada raut wajah yang
berkerut
Sepasang muda-mudi
bercumbu rayu diseberang kursiku,
Diam kulihat terasa
membelenggu
Atau seorang ibu dengan
anaknya yang lucu, glamor terbasuh pakaiannya
Malam semakin sunyi,
bunyi kuda besi berderak mengalahi detak jantungku
Dug dug dug
Hangat uap-uap dan
sorot mencekam ketika bunyi Bul-bul terdengar
Suara berdesit tanda
pemberhentian segera tiba
Baju berseragam tertutup
rapat itu menelisik masuk, membangunkan penumpang
Seakan menodong
siapapun yang menghalang.
Ada apa gerangan?
Belum sampai di ubun-ubun kota
Sesuatu telah terkurung dalam rentangan waktu
Dunia tidak lagi meringis, dunia menangis bunda!
Ini kisah pilu, lebih sakit mana dari nyawa yang
dikuliti?
Nun jauh diseluk kehidupan, seolah peti mati
sudah disiapkan
Manusia-manusia itu pergi kemana? Ketika jasad
dan ruh berpisah.
Katamu, mereka memilki ruang tersendiri
Dibilik mana aku bisa menemukannya bunda?
Dijendela-jendela langit yang entah berapa,
jawabmu.
Jendela itu seakan
cemas ada bulan tertutup awan
Lalu mesin waktu melesat
membawa pada sebidang tanah, bukan satu lagi.
Puluhan bahkan ribuan
Merah memayu segar,
berpendar berebut cahaya sore.
Angin menerbangkan
buhul-buhul semerbak kelopak bunga jatuh,
Tepat disisimu.Sisi
kuburmu.
Kematian bagai digit
angka yang bebas dimanipulasikan
Keluarga yang
ditinggalkan
Semua seakan berakhir
ditahun pilu ini
Bunda, izinkan aku berkeluh
dengan mataku yang memerah
Tetes
air ini adalah tanda pasrah selesai tetirah
Menjalani
takdir Sang Maha Pemurah
Entah sampai kapan suram ini berlalu, bumi pun
berdesit menjerit dijelajahinya
Maka, lekaslah berlalu




0 komentar:
Posting Komentar