Selasa, 25 Februari 2020

0 Bersih kilap seperti nampak kacaa

Pernah merasakan bagaimana nikmatnya "memberi" ?
Iya, seperti aku rasakan, memberi itu menyehatkan ya ternyata.
Kalau belum percaya coba saja. Memberi dan berbagi tak harus dengan sesama manusia, sesama makhluknya pun tak mengapa. Hewan, tumbuhan, lingkungan semuanya jika kita menyadari lebih lanjut akan memunculkan sebuah peka. Kepekaan yang nantinya akan melunakkan hati yang keras.

Orang yang sakit ketika berpikir untuk memberi justru akan melahirkan sebuah perasaan dan energi positif sehingga bisa jadi sakitnya diangkat dan doanya dimustajab.
Mungkin kalian pernah mendengar cerita orang yang sakit keras, lantas ketika ia bersedekah, sebuah keniscayaan penyakitnya sembuh.

Jadi ingat perjuangannya Jendral Soedirman ya.. beliau yang tetap berjihad, berperang melawan penjajah meski sakitnya parah, menyusuri hutan, gunung, desa-desa, berjalan dengan pasukannya dalam tandu. Semangatnya, gigihnya saat itu. yah entahlah kalau dibayangkan. aku saja yang mendaki gunung dengan tujuan bukan untuk Indonesia Merdeka saja payah.  Setahuku beliau sakit jantung atau paru-paru. Atau cerita pak Hasan Al-Banna yang tetap berangkat mengisi ceramah, dalam rangka dakwah walau sakit yang mengharuskan beliau dipandu. Nyatanya semangatnya menyembuhkan. Dan mungkin benar bila jiwa itu besar, tubuh tak akan sanggup melawannya.

Sebaliknya.. bila hati kita dipenuhi penyakit. Tak ada bedanya dengan orang sakit.
Orang sehat namun tidak pernah mencoba untuk memberi manfaat, bukankah ia akan merasakan hal yang "tidak tenang atau tidak nyaman" ? boleh jadi begitu...
Orang yang berjiwa besar, maka ia tak akan menyerah terhadap masalah kecil. coba kita sedikit memakai rumus "peka" di awal tadi.. Perhatikan orang-orang disekeliling kita, adakah yang baru terkena masalah yang mungkin itu adalah hal sepele namun terlalu dibesar-besarkan? terlalu mengumbar sana-sini, mudah hengkang, rentan jikalau masukkannya tak diterima, tak dianggap, gagasannya tak dipandang. Berkoar sana-sini, lalu pura-pura paling sibuk, lebih tepatnya sok sibuk. yahh lempeng deh. Kita jangan jadi orang seperti itu ya? toxic kalau orang bilang.

Hati itu seperti cermin, iya kan? kalau cerminnya jernih maka ia akan memantulkan yang jernih pula. kalau hatinya kita kotor, ya bersihkanlah. Begitu kan cara kerjanya? hehe maaf nih bahasaku kaku gimana gitu, itung-itung latihan nulis. Besok kalao nulis skrepsong biar des-des :D.

Terimakasih ya kamu, udah baca sampai akhir.

About the Author

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions. If you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Twitter username

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top