Kamis, 23 Februari 2023

0 Tuhan, Maafkan Aku Yang Takut Kehilangan

 Tuhan, maafkan aku yang takut kehilangan..


iya, aku manusia lemah yang sering merasa takut, taku kelaparan, takut kehilangan. 

manusia akan selalu di uji, dan dibalik ujian akupun yakin ada makna yang terselip. 

disaat-saat sulit itu, Allah adalah tempatku bersimpuh. Satu-satunya penguatku untuk terus melanjutkan hidup, menikmati segala kasih-sayang seorang Pencipta terhadap hambanya yang lemah ini..luar biasa sekali ya. 

manusia yang sering melakukan salah ini, 

manusia yang banyak lalainya

manusia yang banyak lupanya

banyak maunya, serakah memang. 

tapi apa yang telah Dia balas untuk makhluk kecil ini? 

kebaikan, keajaiban, kasih sayang, terus Dia berikan. 

Allah sudah mengabulkan doa-doamu 

tidakkah kamu berpikir tentang semua itu?

Allah menjawab segala ketakutanmu selama ini.

Allah selalu ada untukmu, Dilla....

Percayalah. 

Janjinya tidak pernah melesat satu detikpun

Sadari bahwa ketika kamu melewati masa-masa sulit itu, Dia melihatmu, Dia mendengarmu. Dia ingin melihat sejauh mana makhluknya bersabar menghadapi cobaan yang diberikannya. 

tetapi kamu lihat, diluar sana masih banyak makluknya yang dengan lebih berat lagi cobaannya. 

jadi bersabarlah, dan bersyukurlah.

setelah ini, masih akan ada kejutan-kejutan lain yang tidak akan kalah seru lagi.

kamu sudah siap? 



Surakarta, 23-03-23

Minggu, 06 September 2020

0 Yang terdalam

 Sunday, 6 Sept'20


22.45 

Bagaimana? Pundakmu masih kuat kan.

Ayo bersyukur lagi, lagi, dan lagi...

Hatimu harus kuat, 

Harus tegar,

Harus tabah,

Harus lebih baik lagi.

Bahkan untuk hal-hal yang semestinya tidak kau pikirkan, harus kau pikirkan. 

Harus kamu alami,

Harus kamu lalui. 

Ya, semua tahu.. Bahwa ini akan terlampaui. Lihat saja, semua akan terlampaui...dan ketika hal itu terjadi, kamu akan menyadarinya kembali...bahwa kenyataan memang membekas, jelas. 

Tak harus berusaha untuk melupa, karena semakin terpaksa. Semakin lama.

Tak perlu berlarut-larut. 

Nikmati sejenak, karena ada waktu untuk diri sendiri dalam "jenak" itu sendiri. 

Kuat!! 

Karena dunia harus tau kamu itu kuat bukan?

Senin, 24 Agustus 2020

0 Syukur

 Nggak salah .

Semua asal baik silahkan.

Mendongak ke atas atau mendongak kebawah itu juga pilihan. Bersukur pun begitu.. Ada banyak cara untuk bersyukur, seringnya melihat kebawah. Nggak salah.. Melihat kebawah berarti belajar bahwa ada yang pundaknya lebih kuat menahan daripada pundak kita.

Tapi satu pertanyaan yang sering terngiang,

Sudahkah bersyukur dengan keadaan diri sendiri? Bersyukur dan sadar diri bahwa segala nikmat, rahmat dan karunia Allah yang begitu Luas, Allah yang Maha Pemurah memberikan rahmat bagi segala mahkluknya.. Namun seberapa banding diantaranya yang mampu merasakan berkah, barokah disetiap detiknya.

Terimakasih, Sang Maha Pemberi Kehidupan.

Sabtu, 22 Agustus 2020

0 Ahad

 Dulu..

Jauh sebelum aku ada dimuka bumi, ketika aku masih melayang bebas entah dimana aku berada..

Saat itu, aku masih belum tau apa itu memilih. Memang tidak ada pilihan dan aku tak diberi pilihan. 

Aku tak akan berandai-andai jikalau semua makhlukNya diberi sebuah pilihan dan ya.. Semua manusia akan girang bukan? 

Sampai akhirnya aku dilahirkan didunia fana ini, dan cerita itu dimulai. Lika-liku, suka-duka, susah-senang, datang-pergi, silih berganti. 

Aku tak bisa memilih untuk dilahirkan dimana, siapa, apa.. Tapi semua tahu bukan? atau tidak semua orang tahu? 

Jika beban sudah disesuaikan dengan kekuatan pundak, bukan kah itu hal yang setiap makhlukNya berbeda-beda? 

Jika iya, berbanggalah, beruntunglah.

Kamu punya hati yang kuat, pundak yang tegap, dan tabah yang lebih..

Kamu punya seribu masalah dan beribu-ribu solusi untuk semua yang menemuimu.

Kamu hanya perlu melewatinya, tak perlu menghadapinya.. Karena itu bukan lawanmu. 


Terkahir, ku ingatkan.

Sudah sampai mana usaha mu?

Selasa, 30 Juni 2020

0 Asa Menjemput Maghfirah


Asa Menjemput Maghfirah

“Jalan dimana aku berusaha untuk berhenti. Sebelum Allah SWT sendiri yang menghentikanku. Sebelum tutup buku amalanku. Ketika aku hidup di dunia ini, dihadapkan pada satu diantara dua pilihan Allah. Pilihan pertama, yaitu tidak mengambil kesempatan hidup dan resikonya. Sedangkan yang kedua ialah mengambil kesempatan hidup itu dengan segala hambatan, tantangan, ujian, dan resiko dengan timbal balik terlahir menjadi makhluk yang paling sempurna diantara semua ciptaanNya.”
Malu..Takut.. Dosaku yang begitu menggunung dan tak terhitung.. dan lagi. Aku merasa hina, pesimis akan diri sendiri. Akankah taubatku diterima?
Sebuah ungkapan hati seseorang yang begitu berlumur dosa. Dengan maksud hati bertaubat dan kembali kejalan yang benar. Namun apalah daya. Pikiranku berkecambuk tak menentu. Bayang-bayang dosa yang begitu mengganggu pikiranku. Aku takut, aku khawatir hal itu yang akan menyeretku kedalam siksaNya suatu saat nanti. Aku khawatir dosaku tidak diampuni Allah. Begitulah rasanya kala itu.
Aku dikenal baik oleh orang disekelilingku, khususnya teman-temanku di lembaga dakwah kampus. Teman sekelasku tahu bahwa aku juga lulusan pesantren. Tapi ada sesuatu yang sebenarnya mereka tidak tahu, dan kusembunyikan dari semua orang. Bahkan orangtuaku sendiri. Hanya salah-satu sahabatku sajalah yang kuberitahu.
Sejak masuk dunia perkuliahan, aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang sudah lama kukenal. Jauh sebelum aku berusia dewasa saat ini. Dia bernama Fahmi. Teman kecilku. Walaupun kami berbeda kampus, aku di Bandung dan dia sendiri berada di Yogyakarta. Tapi itu tak menjadi penghalang bagi kami untuk saling bertukar kabar. Chatting hingga video call sering menjadi teman kala sepi. Long distance relationship, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi kami. Tapi aku merasa senang-senang saja selama ini. Fahmi pun juga begitu. Selama tak merugikan orang lain, walau kadang terbesit perasaan aneh yang entah membuatku tak nyaman.
Aku masih ingat, di bulan Desember ketika dia berencana pergi liburan ke Bandung sekaligus menemuiku yang saat itu memang liburan akhir semester. Sebuah kesempatan untuk kembali bersua setelah sekian lama tak bertemu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul. Namun jauh dilubuk hatiku, ada sesuatu hal yang mengganjal. Batinku seperti memberontak bahwa apa yang kulakukan termasuk perbuatan yang salah dan tidak benar dalam kaidah hukum islam yang selama ini aku ketahui. Namun semuanya buyar ketika Fahmi sudah melambaikan tangan dikejauhan.
“Apa kabar Sea?” Tanya Fahmi.
“Alhamdulillah, baik Fah”. Kujawab dengan senyum dikulum. Sore itu, aku tak banyak tingkah seperti saat-saat pertemuan sebelumnya. Aku dan Fahmi hanya berjalan-jalan menghabiskan sisa waktu di kota Bandung. Hingga tiba disebuah pasar malam di sudut kota Ciamis. Kami berencana untuk menaiki bianglala sekaligus melihat keindahan panorama dari atas.
Kawan, ketauhilah. Dari sinilah petaka itu datang, tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada peringatan. Semua terjadi begitu cepat. Dan aku tak sempat memikirkan apa-apa kecuali memikirkan rasa takutku yang teramat sangat. Tepat saat bianglala berada diatas, bunyi menggeretak itu terdengar cukup keras, besi-besi penyangga itu patah. Semua panik, tak terkecuali aku dan Fahmi. Belum sempat kami berbicara. Tubuhku terpelanting jatuh, begitupula kulihat Fahmi. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Semua gelap.
Aku baru menyadari ketika hampir dua minggu aku tersadar dari koma panjangku, masih kuingat saat kubuka mata untuk pertama kalinya. Disitulah ada sepasang malaikatku berdiri, menatapku dengan ibanya. Menangis. Mataku panas, tangisku pecah. Aku merasa sangat bersalah. Kuusap tangan ibu walau lemah. Disitu kulihat juga Aini, sahabat dekatku dilembaga dakwah kampus, sembari berbisik. “Sea, Fahmi sudah mendahului kita..” Ayahku mengerti atas ketidaktahuanku. Ia menggeleng sembari memperlihatkanku pada sebuah foto nisan yang bunganya belum seluruhnya layu.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dadaku begitu sesak menerima kenyataan. Sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Aku telah membohongi diri sendiri dan didepan semua orang-orang yang aku sayangi, sahabat yang masih peduli denganku, teman yang masih mau menerimaku. Dan yang paling aku takutkan adalah ternyata Allah masih memberikanku kesempatan untuk melihat dunia, untuk tetap hidup tanpa harus mati sia-sia dalam lubang kemaksiatan. Perasaan takut dan khawatir akan betapa hinanya aku dihadapanNya.
“Teruntuk Panasea, seseorang yang benar-benar menyesali semua dosa yang diperbuat dan merasa sedih karenanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, InsyaAllah rahmat dan ampunan Alllah itu luas bagi mereka yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” Bisik Aini lembut ditelingaku.
***
Ada securah kebahagiaan dihati ketika kita bisa bersimpuh dan memohon ampun serta bertaubatan nasuha kepada Allah. Sebuah keagungan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Dzat yang Ghafuur, Yang Maha mengampuni segala dosa bagi hambanya yang berharap. Sebelum semuanya terlambat, sebelum urat nadi berhenti, sebelum napas terhenti. Maka ketuklah pintu taubat itu, karena kita tak tahu persis kapan pintu itu benar-benar tertutup rapat untuk kita lalui.
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampu bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal halih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thahaa:82).


End...

Rabu, 15 April 2020

0 Cuma Sakit Flu, tapi....

Jadi begini, ini ceritaku.
Mau baca?



Ini adalah kisah yang saya alami sendiri. Kejadian bermula saat saya masih aktif mengikuti perkuliahan disalah satu universitas negri di Kota Solo. Sebut saja Ultramen Ning Solo. Waktu itu saya masih manusia dan seperti biasa masih sibuk-sibuknya (sok sibuk sebenarnya) mengikuti beberapa agenda rapat. Saat itu, Solo belum ditetpakan sebagai status kejadian luar biasa (KLB) walau sempat kudengar isu pasien positif corona di RS. Moewardi. Jadi ya masih mlancong sana-sini aja ya kan. 

Kebetulan agenda malam Kamis ada rapat untuk persiapan KKN dibulan Juli-Agustus nanti, sebelumnya saya pesan steak dan segelas es teh kampul disalah satu tempat makan daerah Mojosongo. Entah perasaan tenggorakan saya terasa sakit seketika setelah menyantap keduanya. Tapi tetap lanjuuuutkan makaann. Keesokan harinya, benar. Tenggorokan saya tambah sakitnya, alhasil hanya membeli obat pereda nyeri tenggorokan di apotek dekat kontrakan. Saya masih berada di Solo karena masih ada beberapa urusan yang harus diselesaikan hingga tiba saatnya..akupun melihat.. cintaku yang khianat cintaku berkhianat eee keblabasan nyanyi, ketauan pernah dikhianatin. Hingga tibalah pemerintah kota Surakarta menyatakan kotanya berstatus KLB virus Corona pada Jum’at, 13 Maret 2020 setelah kabar resmi adanya warga Solo yang terjangkit virus tersebut. 

Yang ada dipikiran saya saat itu hanyalah bagaimana nasib perkuliahan nantinya (heleh padahal mah ga mikirin apa-apa, mikirin kamu ajalah wkwk). Setelah akhirnya kampus menurunkan surat edaran antisipasi penyebaran Chovid-19 akhirnya saya luntang-lantung mau ngapain ya hhh. Saat itu saya masih bermalam minggu di kontrakan, mulailah badan saya merasa tidak nyaman. Dalam sehari tak terhitung bersin berapa kali, endingnya meler tiada henti (auwachh pilek ges pilek) disusul batuk dan demam panas tinggi. Saya memutuskan untuk pulang kerumah keesokan harinya. Masih santuy dan tidak berpikir apa-apa bahkan soal corona, tidak terbesit. Hanya saja, walau saya cuek-cuek gini..tapi endingnya ada rasa cemas juga. Saya mengabari bulek saya terlebih dahulu kalau saya mau pulang dan merasa tidak enak badan. Eh malah bulek saya yang over panik.

Sebelum sampai rumah terbesit untuk membeli masker dan tissue. Masih kuat walau motoran sendirian disamping badan terasa gembrebek adem panas tak karuan. Dan akhirnya mampirlah di apotek pinggir jalan dekat rumah. “Mbak ada masker?” tanyaku , “Ada mbak, tapi sekarang masker langka” jawab si mbaknya apoteker. “Ya berapa harganya mba” jawabku sambil menahan hidungku agar tak keluar meler wkwkw . “Per biji 8 ribu mba” Behh naiknya cepet banget buesett, padahal sih biasanya harga normal perbiji hanya 1.000-1.500 sudah dapat satu masker eceran. kan langka dillaaa wajar dongg gimana sihh. asudahlah gapapa, buat jaga-jaga biar ga nularin orang rumah, bukan begitu kawan? Ya walau lumayan buat beli semangkuk mie ayam masih dapet tuh. 1 masker = semangkuk mie ayam. Huhuhu 

Saya tak menyangka begitu meletakkan helm diruang tamu, bulek saya datang kerumah dan berdiri diujung pintu seraya berkata “Kamu sakit opo Nduk? Nek watuk pilek lan panas gek ndang perikso, bahaya mudeng pora. Solo corona” sambil menutup hidungnya. “Enggih bulek jawabku sentrap-sentrup. Pilek. Dalam hati terasa sakit mendengarnya dan cemas itu muncul kembali. Saya bingung harus bagaimana, dan keputusan terdekat yang bisa ambil adalah mengurung diri di kamar !!! Saya mulai menggali informasi lebih mendalam mengenai virus ini, diberbagai media massa, pamflet, channel berisi chovid-19 saya babat habis. Gejala, perbedaan ciri, penanganan, dan lain sebagainya. Saya juga chat teman-teman dan sahabat saya, bertanya pendapat mereka baiknya bagiamana. Ada tiga tipe saran kurang lebih yang saya simpulkan. Pertama, kebanyakan sebagian teman-teman mengusulkan untuk periksa terlebih dahulu ke puskesmas terdekat, tapi ada sebagian lainnya malah mengusulkan saya untuk cek chovid di RS. Moewardi untuk lebih meyakinkan sakit saya.
“Sebaiknya, kamu periksa ke sana saja. Demi kebaikan dirimu dan orang lain juga tak ada salahnya mencoba”. Gila saja pikirku. Hah masak aku periksa ke Solo lagi? Disaat KLB seperti ini? Tidak. Disaat seperti itu, pikiran berkecambuk, khawatir, cemas. Saya mulai membayangkan hal-hal menyeramkan diluar sana. Dan mulai membatasi diri dengan orang rumah, bahkan saya menunggu malam tiba untuk pergi kekamar mandi ketika semua sudah tertidur lelap. Untuk makan kuminta mereka menaruh didepan pintu kamar saja. Tak mau merepotkan mereka dan menambah kekhawatiran orangtua ketika mereka menyuruh untuk keluar kamar, hanya bisa menjawab “Takut nularin ma, dikamar aja gapapa”.

 Begitulah hari-hari saya yang begitu menyedihkan. Hiksss cedihh ditengah berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini hanyalah flu biasa gegara minum es kampul, yang nantinya akan sembuh sendirinya. Pikiran masih saja was-was karena saat masih berada di Solo, saya masih keluyuran ke beberapa tempat dimana disitulah daerah yang dikatakan pasien positif virus corona.  Hanya saja mengenal perbedaan flu yang saya alami dengan chovid ini agak mengalami kendala. Demam saya sudah menurun, tetapi saya masih sakit tenggorokan, pilek, dan batuk. Tapi juga merasakan dada sesak. Ini yang menjadi masalah gaiss. Saya merasa sesak, tetapi tidak begitu panas. Apakah karena batuk yang saya alami ini agak berat hingga terasa sesak?  Adapula yang menyarankan dengan begitu menenangkannya. Tak lain dan tak bukan ialah sahabat saya.
“Sudahlah jangan terlalu panik dan terlalu dipikirkan, itu hanya flu biasa. Kamu akan sembuh dengan sendirinya. Pesanku segera periksa, berobat. Jangan mengurung diri dengan sangkaan mu sendiri. Yang penting jaga pola makan, istirahat cukup, minum obat, dan tetap dirumah aja jangan kemana-mana dulu”. 

Ah sungguh menenangkan walaupun hal itu saran yang bisa dikatakan sederhana tetapi mampu meredam stres saya disaat seperti ini. Oiya saya hampir 3-4 hari merasakan tak tenang disamping flu yang tak kunjung mereda dan tugas kuliah online yang naudzubillah ga ada akhlak di pekan pertama. Sampai muncul sariawan dibeberapa tempat. (Maklum keturunan gen babe yang rajin sariawan, apalagi dibarengin stres beuhh suka jama’ah)
Dari masukan teman-teman itulah saya berpikir bahwa maksud mereka semuanya sebenarnya sangatlah baik. Namun perasaan kitalah yang mampu menerjemahkan mana yang sekiranya cocok dan pas untuk dilakukan. Bahkan saran yang baik sekalipun boleh jadi berdampak sebaliknya jika hal itu tak sesuai dengan hati nurani kita. Jadi saranku (kok malah ngasih saran sich) jika kamu sakit saat-saat kondisi seperti ini, apalagi dengan gejala sakit flu, demam panas, batuk dll. Please berceritalah dengan orang yang bisa kamu percaya. Karena stigma si chovid ini emang bener-bener bikin kita jadi celimpung wkwkw kalo gak kuat. Apalagi ditengah-tengah masyarakat yang notabennya siap siaga dan ya begitulah yaa. 

Jaga kesehatan yaa..
Jangan suka sakit, karena Allah menyukai hambanya yang kuat. Kalau kuat ibadahnya kan lancar :)
Oiya teruntuk yang sudah mendoakan cepat sembuh, makasih kalian semua hehe. Dapet semangat buat sembuh lo itu tuh berharga <3

0 PETRIKOR


Di stasiun pukul satu
Kutengok jam usang bertengger, pada dinding-dinding kusam termakan usia
Masih kuingat siaran televisi nasional, membahas linimasa penjuru dunia
Ya, virus kranjingan berinisial “C” itu
Katanya telah sampai di negeri seberang, tak peduli waktu terus berlari
Bunda telah memanggilku untuk pulang !
                               
Jiwaku tersengat kerumunan, berharap si baja hitam kunjung datang
Berbisik rindu akan kampung halaman
Sudah lewat pukul satu
Dini hari masih termangu, digerbong kereta dekat pintu
Siangku terasa cepat, tergantikan gelap karam
Sarapanku sekedar pagi yang sirna terbangun dari lelapnya malam

Disepanjang perjalanan menuju peraduan
Tetes air menggenang melewati jendela bisu
Harum aroma petrikor menusuk-nusuk cuping hidung, bersetubuh dengan musim penghujan
Kiranya sudut semesta sedang diberi berkah

Tak ada raut wajah yang berkerut
Sepasang muda-mudi bercumbu rayu diseberang kursiku,
Diam kulihat terasa membelenggu
Atau seorang ibu dengan anaknya yang lucu, glamor terbasuh pakaiannya
Malam semakin sunyi, bunyi kuda besi berderak mengalahi detak jantungku
Dug dug dug

Hangat uap-uap dan sorot mencekam ketika bunyi Bul-bul terdengar
Suara berdesit tanda pemberhentian segera tiba
Baju berseragam tertutup rapat itu menelisik masuk, membangunkan penumpang
Seakan menodong siapapun yang  menghalang.
Ada apa gerangan?

Belum sampai di ubun-ubun kota
Sesuatu telah terkurung dalam rentangan waktu
Dunia tidak lagi meringis, dunia menangis bunda!

Ini kisah pilu, lebih sakit mana dari nyawa yang dikuliti?
Nun jauh diseluk kehidupan, seolah peti mati sudah disiapkan
Manusia-manusia itu pergi kemana? Ketika jasad dan ruh berpisah.
Katamu, mereka memilki ruang tersendiri
Dibilik mana aku bisa menemukannya bunda?
Dijendela-jendela langit yang entah berapa, jawabmu.
Jendela itu seakan cemas ada bulan tertutup awan

Lalu mesin waktu melesat membawa pada sebidang tanah, bukan satu lagi.
Puluhan bahkan ribuan
Merah memayu segar, berpendar berebut cahaya sore.
Angin menerbangkan buhul-buhul semerbak kelopak bunga jatuh,
Tepat disisimu.Sisi kuburmu.

Kematian bagai digit angka yang bebas dimanipulasikan
Keluarga yang ditinggalkan
Semua seakan berakhir ditahun pilu ini

Bunda, izinkan aku berkeluh dengan mataku yang memerah
Tetes air ini adalah tanda pasrah selesai tetirah
Menjalani takdir Sang Maha Pemurah
Entah sampai kapan suram ini berlalu, bumi pun berdesit menjerit dijelajahinya
Maka, lekaslah berlalu
 
back to top