Asa
Menjemput Maghfirah
“Jalan dimana aku
berusaha untuk berhenti. Sebelum Allah SWT sendiri yang menghentikanku. Sebelum
tutup buku amalanku. Ketika aku hidup di dunia ini, dihadapkan pada satu
diantara dua pilihan Allah. Pilihan pertama, yaitu tidak mengambil kesempatan
hidup dan resikonya. Sedangkan yang kedua ialah mengambil kesempatan hidup itu
dengan segala hambatan, tantangan, ujian, dan resiko dengan timbal balik terlahir
menjadi makhluk yang paling sempurna diantara semua ciptaanNya.”
Malu..Takut..
Dosaku yang begitu menggunung dan tak terhitung.. dan lagi. Aku merasa hina, pesimis
akan diri sendiri. Akankah taubatku diterima?
Sebuah
ungkapan hati seseorang yang begitu berlumur dosa. Dengan maksud hati bertaubat
dan kembali kejalan yang benar. Namun apalah daya. Pikiranku berkecambuk tak
menentu. Bayang-bayang dosa yang begitu mengganggu pikiranku. Aku takut, aku
khawatir hal itu yang akan menyeretku kedalam siksaNya suatu saat nanti. Aku
khawatir dosaku tidak diampuni Allah. Begitulah rasanya kala itu.
Aku
dikenal baik oleh orang disekelilingku, khususnya teman-temanku di lembaga
dakwah kampus. Teman sekelasku tahu bahwa aku juga lulusan pesantren. Tapi ada
sesuatu yang sebenarnya mereka tidak tahu, dan kusembunyikan dari semua orang.
Bahkan orangtuaku sendiri. Hanya salah-satu sahabatku sajalah yang kuberitahu.
Sejak
masuk dunia perkuliahan, aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang sudah lama
kukenal. Jauh sebelum aku berusia dewasa saat ini. Dia bernama Fahmi. Teman
kecilku. Walaupun kami berbeda kampus, aku di Bandung dan dia sendiri berada di
Yogyakarta. Tapi itu tak menjadi penghalang bagi kami untuk saling bertukar
kabar. Chatting hingga video call sering menjadi teman kala sepi. Long distance
relationship, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi
kami. Tapi aku merasa senang-senang saja selama ini. Fahmi pun juga begitu. Selama
tak merugikan orang lain, walau kadang terbesit perasaan aneh yang entah membuatku
tak nyaman.
Aku masih ingat, di bulan Desember
ketika dia berencana pergi liburan ke Bandung sekaligus menemuiku yang saat itu
memang liburan akhir semester. Sebuah kesempatan untuk kembali bersua setelah
sekian lama tak bertemu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul. Namun jauh
dilubuk hatiku, ada sesuatu hal yang mengganjal. Batinku seperti memberontak
bahwa apa yang kulakukan termasuk perbuatan yang salah dan tidak benar dalam
kaidah hukum islam yang selama ini aku ketahui. Namun semuanya buyar ketika
Fahmi sudah melambaikan tangan dikejauhan.
“Apa kabar Sea?” Tanya Fahmi.
“Alhamdulillah, baik Fah”. Kujawab
dengan senyum dikulum. Sore itu, aku tak banyak tingkah seperti saat-saat
pertemuan sebelumnya. Aku dan Fahmi hanya berjalan-jalan menghabiskan sisa
waktu di kota Bandung. Hingga tiba disebuah pasar malam di sudut kota Ciamis.
Kami berencana untuk menaiki bianglala sekaligus melihat keindahan panorama
dari atas.
Kawan, ketauhilah. Dari sinilah petaka
itu datang, tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada peringatan. Semua terjadi begitu
cepat. Dan aku tak sempat memikirkan apa-apa kecuali memikirkan rasa takutku
yang teramat sangat. Tepat saat bianglala berada diatas, bunyi menggeretak itu
terdengar cukup keras, besi-besi penyangga itu patah. Semua panik, tak
terkecuali aku dan Fahmi. Belum sempat kami berbicara. Tubuhku terpelanting
jatuh, begitupula kulihat Fahmi. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Semua
gelap.
Aku baru menyadari ketika hampir dua
minggu aku tersadar dari koma panjangku, masih kuingat saat kubuka mata untuk
pertama kalinya. Disitulah ada sepasang malaikatku berdiri, menatapku dengan
ibanya. Menangis. Mataku panas, tangisku pecah. Aku merasa sangat bersalah.
Kuusap tangan ibu walau lemah. Disitu kulihat juga Aini, sahabat dekatku
dilembaga dakwah kampus, sembari berbisik. “Sea, Fahmi sudah mendahului kita..”
Ayahku mengerti atas ketidaktahuanku. Ia menggeleng sembari memperlihatkanku
pada sebuah foto nisan yang bunganya belum seluruhnya layu.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dadaku
begitu sesak menerima kenyataan. Sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang
telah aku lakukan. Aku telah membohongi diri sendiri dan didepan semua
orang-orang yang aku sayangi, sahabat yang masih peduli denganku, teman yang masih
mau menerimaku. Dan yang paling aku takutkan adalah ternyata Allah masih
memberikanku kesempatan untuk melihat dunia, untuk tetap hidup tanpa harus mati
sia-sia dalam lubang kemaksiatan. Perasaan takut dan khawatir akan betapa
hinanya aku dihadapanNya.
“Teruntuk Panasea, seseorang yang
benar-benar menyesali semua dosa yang diperbuat dan merasa sedih karenanya dan
berjanji tidak akan mengulanginya lagi, InsyaAllah rahmat dan ampunan Alllah
itu luas bagi mereka yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” Bisik Aini lembut
ditelingaku.
***
Ada securah kebahagiaan dihati ketika
kita bisa bersimpuh dan memohon ampun serta bertaubatan nasuha kepada Allah.
Sebuah keagungan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Dzat yang Ghafuur,
Yang Maha mengampuni segala dosa bagi hambanya yang berharap. Sebelum semuanya
terlambat, sebelum urat nadi berhenti, sebelum napas terhenti. Maka ketuklah
pintu taubat itu, karena kita tak tahu persis kapan pintu itu benar-benar
tertutup rapat untuk kita lalui.
“Dan
sesungguhnya Aku Maha Pengampu bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal
halih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thahaa:82).
End...




0 komentar:
Posting Komentar