Selasa, 30 Juni 2020

0 Asa Menjemput Maghfirah


Asa Menjemput Maghfirah

“Jalan dimana aku berusaha untuk berhenti. Sebelum Allah SWT sendiri yang menghentikanku. Sebelum tutup buku amalanku. Ketika aku hidup di dunia ini, dihadapkan pada satu diantara dua pilihan Allah. Pilihan pertama, yaitu tidak mengambil kesempatan hidup dan resikonya. Sedangkan yang kedua ialah mengambil kesempatan hidup itu dengan segala hambatan, tantangan, ujian, dan resiko dengan timbal balik terlahir menjadi makhluk yang paling sempurna diantara semua ciptaanNya.”
Malu..Takut.. Dosaku yang begitu menggunung dan tak terhitung.. dan lagi. Aku merasa hina, pesimis akan diri sendiri. Akankah taubatku diterima?
Sebuah ungkapan hati seseorang yang begitu berlumur dosa. Dengan maksud hati bertaubat dan kembali kejalan yang benar. Namun apalah daya. Pikiranku berkecambuk tak menentu. Bayang-bayang dosa yang begitu mengganggu pikiranku. Aku takut, aku khawatir hal itu yang akan menyeretku kedalam siksaNya suatu saat nanti. Aku khawatir dosaku tidak diampuni Allah. Begitulah rasanya kala itu.
Aku dikenal baik oleh orang disekelilingku, khususnya teman-temanku di lembaga dakwah kampus. Teman sekelasku tahu bahwa aku juga lulusan pesantren. Tapi ada sesuatu yang sebenarnya mereka tidak tahu, dan kusembunyikan dari semua orang. Bahkan orangtuaku sendiri. Hanya salah-satu sahabatku sajalah yang kuberitahu.
Sejak masuk dunia perkuliahan, aku dipertemukan lagi dengan seseorang yang sudah lama kukenal. Jauh sebelum aku berusia dewasa saat ini. Dia bernama Fahmi. Teman kecilku. Walaupun kami berbeda kampus, aku di Bandung dan dia sendiri berada di Yogyakarta. Tapi itu tak menjadi penghalang bagi kami untuk saling bertukar kabar. Chatting hingga video call sering menjadi teman kala sepi. Long distance relationship, mungkin itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan kondisi kami. Tapi aku merasa senang-senang saja selama ini. Fahmi pun juga begitu. Selama tak merugikan orang lain, walau kadang terbesit perasaan aneh yang entah membuatku tak nyaman.
Aku masih ingat, di bulan Desember ketika dia berencana pergi liburan ke Bandung sekaligus menemuiku yang saat itu memang liburan akhir semester. Sebuah kesempatan untuk kembali bersua setelah sekian lama tak bertemu. Ada rasa bahagia yang tiba-tiba muncul. Namun jauh dilubuk hatiku, ada sesuatu hal yang mengganjal. Batinku seperti memberontak bahwa apa yang kulakukan termasuk perbuatan yang salah dan tidak benar dalam kaidah hukum islam yang selama ini aku ketahui. Namun semuanya buyar ketika Fahmi sudah melambaikan tangan dikejauhan.
“Apa kabar Sea?” Tanya Fahmi.
“Alhamdulillah, baik Fah”. Kujawab dengan senyum dikulum. Sore itu, aku tak banyak tingkah seperti saat-saat pertemuan sebelumnya. Aku dan Fahmi hanya berjalan-jalan menghabiskan sisa waktu di kota Bandung. Hingga tiba disebuah pasar malam di sudut kota Ciamis. Kami berencana untuk menaiki bianglala sekaligus melihat keindahan panorama dari atas.
Kawan, ketauhilah. Dari sinilah petaka itu datang, tanpa ada pemberitahuan, tanpa ada peringatan. Semua terjadi begitu cepat. Dan aku tak sempat memikirkan apa-apa kecuali memikirkan rasa takutku yang teramat sangat. Tepat saat bianglala berada diatas, bunyi menggeretak itu terdengar cukup keras, besi-besi penyangga itu patah. Semua panik, tak terkecuali aku dan Fahmi. Belum sempat kami berbicara. Tubuhku terpelanting jatuh, begitupula kulihat Fahmi. Setelah itu, aku tak ingat apa-apa lagi. Semua gelap.
Aku baru menyadari ketika hampir dua minggu aku tersadar dari koma panjangku, masih kuingat saat kubuka mata untuk pertama kalinya. Disitulah ada sepasang malaikatku berdiri, menatapku dengan ibanya. Menangis. Mataku panas, tangisku pecah. Aku merasa sangat bersalah. Kuusap tangan ibu walau lemah. Disitu kulihat juga Aini, sahabat dekatku dilembaga dakwah kampus, sembari berbisik. “Sea, Fahmi sudah mendahului kita..” Ayahku mengerti atas ketidaktahuanku. Ia menggeleng sembari memperlihatkanku pada sebuah foto nisan yang bunganya belum seluruhnya layu.
Aku menangis sejadi-jadinya. Dadaku begitu sesak menerima kenyataan. Sungguh aku sangat menyesal dengan apa yang telah aku lakukan. Aku telah membohongi diri sendiri dan didepan semua orang-orang yang aku sayangi, sahabat yang masih peduli denganku, teman yang masih mau menerimaku. Dan yang paling aku takutkan adalah ternyata Allah masih memberikanku kesempatan untuk melihat dunia, untuk tetap hidup tanpa harus mati sia-sia dalam lubang kemaksiatan. Perasaan takut dan khawatir akan betapa hinanya aku dihadapanNya.
“Teruntuk Panasea, seseorang yang benar-benar menyesali semua dosa yang diperbuat dan merasa sedih karenanya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, InsyaAllah rahmat dan ampunan Alllah itu luas bagi mereka yang benar-benar bertaubat kepada-Nya” Bisik Aini lembut ditelingaku.
***
Ada securah kebahagiaan dihati ketika kita bisa bersimpuh dan memohon ampun serta bertaubatan nasuha kepada Allah. Sebuah keagungan yang tidak bisa digambarkan dengan kata. Dzat yang Ghafuur, Yang Maha mengampuni segala dosa bagi hambanya yang berharap. Sebelum semuanya terlambat, sebelum urat nadi berhenti, sebelum napas terhenti. Maka ketuklah pintu taubat itu, karena kita tak tahu persis kapan pintu itu benar-benar tertutup rapat untuk kita lalui.
“Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampu bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal halih, kemudian tetap di jalan yang benar”. (Thahaa:82).


End...

About the Author

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions. If you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Twitter username

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top