Kamis, 29 Agustus 2019

0 Banyu Langit Merapi Part I

20/7/2017

DiBumi tercinta,

        Mungkin ini sedikit cerita tentang pendakian pertamaku. Yap, Gunung Merapi yang terletak di wilayah Klaten, Boyolali Jawa Tengah. Gunung merapi itu termasuk gunung teraktif di Indonesia dengan ketinggian 2930mdpl per 2010. Entahlah setelah erupsi terakhir ketinggian sekarang aku tidak terlalu menahu.

       Pagi itu, dengan langit kota Surakarta yang terlihat begitu cerah, sedikit awan yang menghiasi langit kotaku. Kami dengan rombongan berjumlah 10 orang berangkat bersama-sama menuju basekamp Gunung Merapi via New Selo. Dengan berboncengan kala itu. Yuhuu. Genap sudah jumlah kami kan.. Yang konon katanya sih, kalau jumlah pendaki ganjil bakal pecah rombongan. Ya wallahu'alam . Pikiranku hanya positif saja kala itu.
Kami sampai di basekamp Barameru pukul 10.15 . Waktu yang tersisa kami gunakan untuk sejenak beristirahat dan mengecek kembali segala keperluan pendakian. Karena ini adalah pendakian pertamaku (yang kuingat perlengkapanku ada yang kurang saat itu. Matras!!!) tetapi aku cuek saja karena pikirku sudah ada SB ditasku.

        Kami yang beranggotakan aku sendiri, Hana, Nani, Nisa, Alfi, Putra, Haby, Akfi, Aldy, dan Madah. 6 perempuan dan 4 laki-laki . Haha konyol emang. Yah tetapi standartlah mereka para cowo lebih kuat yakan :p. Kami pun melanjutkan dari Barameru menuju posko pendakian New Selo. Wiluihhhh nanjak juga ya ternyata , belom mulai udah ngos-ngosan wkwk.
Diposko terdapat beberapa spot wisata dan deretan warung. Tak menyia-nyiakan kami oun mampir sekedar mengisi perut untuk stok tenaga nanti. Aku sendiri pesan nasi rames. Dan itu pertama kalinya aku makan nasi rames cuy.. Sebelumnya gak pernah !! Isinya ya biasa ternyata, nasi putih telur goreng dan sambal kelapa. Sederhana namun terasa nikmat kala itu. Sembari makan, kami melanjutkan sholat dhuhur jama ashar di sekitar lahan lapang.
Masih ingat aku masih sempat beli cilok buat bekal ndaki :D .

          Singkat cerita kami pun melakukan doa sebelum pendakian dimulai. Hal ini wajib sekali dilakukan tiap-tiap berjiwa yang akan melakukan sesi pendakian. Hoho. Jengg jengggg pendakian pun. Dimulai. Kira-kira jam satu lewat lah. Diperjalanan kami isi dengan senda gurau, kadang candaan, bercerita tentang segala hal agar rasa kesal sirna.

       Jarak pendakian dari posko ke pos I lumayan jauh guys. Jauuuh. 1 jam. Hehe. Yang mengasyikkan sih kalo udah sampai pos, pasti kami bersepuluh break dan pastinya main TOD. Hal yang berbeda dari kesekian pendakianku selama ini.. Hanya sekali main TOD dan itu di Merapi. Pake botol dong mainnya hahaha. Setelah cukup istirahat lanjut dong ke pos II. Dan inilah perjuangan kami di uji...... Kenapa ? Karena kala itu hanya rombongan kami yang sedang melakukan perjalanan ke pos II, selainnya kami tidak menemui. Kecuali para pendaki yang turun.

       Pos I ke Pos II cukup menguras energi, dan jaraknya memang paling jauh dari kesekian. Kami diguyur hujan deras, benar" deras. Bersepuluh orang mencoba untuk tetap satu ritme, saling bahu-membahu, leader memastikan pijakan yang akan dilalui anggota lainnya aman, barulah diikuti kawan-kawan lain.. Yang ditengah mencoba memberi semangat, menguatkan. Bayangkan, hujan, angin, dan jalur pendakian yang banjor dilalui air membuat beban kami 2xlipat menggunakan tenaga . Jalan yang curam dan menanjak.. Untuk seukuran cewek sih lumayan melangkahnya harus jauh (njanggkah) pegel sendi2 . Yang paling heboh kala hujan saat itu adalah ketika kami menemui beberapa pohon tumbang menutupi jalur pendakian :( .

       So sad, untunglah Sang Khalik masih melindungi hambanya. Mendekap hambanya di tubuh siti hinggil milikNya. Aman. Semua aman. Kami selamat dari amukan badai kala itu. Pohon tak melukai kami. Masih kuingat ketika sang leader memilihkan jalan yang terkesan seperti lorong disemak-semak lebat. Heuh.. Khawatirku ada ular atau apalah.. Ternyata masih aman wkwk. Alhamdulillah.. Kami pun sampai di pos II lengkap bersepuluh. Kami bertemu dengan para pendaki-pendaki lain disitu. Mereka juga berteduh dari guyuran hujan. Dingin sekali rasanya. Untunglah sikap ramah dan budaya mendaki masih berlaku di ranah itu. Salah seorang pendaki laki-laki menawari kami secangkir besar kopi hitam panas.
Yah terpaksa aku mau, walau sejujurnya aku tidak menyukai kopi, kalau kepepet yasudah hehehe.

       Hujan pun belum juga reda.. Waktu mwnunjukkan pukul 15.30 setempat. Aku dan teman-teman menggigil bersama pendaki lain. Shelter yang hanya muat 15-25 orang itu pun sesak, berhimpitan demi terhindar dari tempias air hujan. Cuaca mendung berkabut diiringi angin membuatku gemetar , dingin, lapar. Hanya setumpuk roti kami makan bersama-sama. Berbagi tentunya. Hana membaca Al-quran yang dibawanya. Khusyu.
Aku juga ingin membaca jadinya.. Biar hati tenang, sebab aku tak sempat bawa Qur'an. Hehehehe keliatan kan kaaan..
Bacaan kami didengarkan oleh sebagian pendaki lain. Sedangkan teman-temanku sibuk dengan urusan masing-masing. Entah itu berkemul , main hape, makan kacang, atau BAK darurat wkwk. Sedikit kulirik pendaki yang merokok dengan asyiknya. Jelas aku terganggu.

      Pukul 5.20 hujan lumayan reda, kami pun memutuskan untuk nekat melanjutkan pendakian.. Khawatir gelap malam segera tiba. Pendaki lain memang sudah ada yang mendahului kami, tetapi sebagian lebih memilih untuk tinggal sebab hari emmang sudah menjelang magrib...


     Yaps , bersepuluh orang tadi tetap menjaga ritme , berjalan, pelan tapi pasti, beraturan, leader, tim keeper, tim senter. Hari memang sudah gelap ketika 1/4 perjalanan menuju pos III. Keadaan gelap membuat kami lebih nerjati-hati lagi. Untunglah saat itu tidak ada yang namanya lintah/pacet. Karena aku phobia dengan semacam ulat.
Nah, dari pos II menuju pos III perjalanan lumayan mengasyikkan walau gelap, tetapi keadaan sekitar tidak terlalu lembab ternyata.

      Tapi, ada hal ganjil yang menemani kami kala itu.. Tau sendiri Merapi terkenal dengan sebutan pusatnya gunung-gunung dijawa. Entahlah, aku yang polos ini tidak ada niatan memikirkan yang tidak-tidak. Walau aku tau dan meyakini ada hal ghaib diluar kuasa kami sebagai manusia. Aku cuek saja. Sampai di Watu Belah yang menandakan pos III sebentar lagi akan sampai. Kami break sejenal dibawah rindangnya pohon kala itu. Entah cuaca mendadak berubah cerah, langit terlihat bintang-bintang bertebaran, sesekali burung malam berkeok-keok didahan pohon. Dingin angin malam menyelimuti kami dan memutuskan untuk melanjutkan pendakian kembali agar hangat tubuh tetap terjaga. Kami harus bergerak.

      Temanku, Hana. Entah dia terlihat aneh sekali ketika kami melewati bebatuan besar ditengah jalur pendakian. Aku sedang dibelakangnya pas kala itu , dia kebetulan yang memegang senter jadi aku nurut aja. Entah tiba-tiba saja dia mengalihkan perhatian ku ketika tanganku ingin meraba-raba apa yang disenterinya dipermukaan batu itu. Hmm aku cuek lah. Lanjut aja terus dah.. Hana memang paling aneh dan benar saja. Ketika Kami turun gunung keesokan harinya, dia bercerita tentang hal yang ditemuinya kala itu. Yaaa , batu nisan. Aku tak heran ketika menemui hal tersebut disana. Jelas itu sebuah penanda dari krang-orang yang ingin mengenang kepergian seseorang. Entah itu yamg meninggal digunung atau sebab lain. Kalau pengen tau nama" pendaki yg meninggal di merapi. Atau mau tau sejarah nisannya. Search aja di google guys.


       Pukul 21.00 kami sampai di pos III dengan utuh dan sehat. Hehe, lanjut langsung mendirikan tenda lah, karena cuaca juga semakin dingin dan kadar oksigen semakin menipis. Ya , dan saat mendirikan tenda itulah, si Hana terlihat aneh kembali. Jadi dia cerita kalau anggota kami jadi sebelas orang. (dia ceritanya pas udah turun gunung loya) Yakali masih sempet2nya ngitung... Aku mah cuek pas itu karena sibuk juga bantuin para cowok diriin tenda.

        Bagiku niat lurus dan tidak berpikir macam-macam digunung itu perlu. Karena kita memang pendatang, dan pendatang pastinya ada penunggu. Itu diluar kuasa manusia. Karena alam liar, lembah, hutan, gunung, adalah contoh dari kesekian tempat lembab. Tau kan tempat lembab tempatnya siapa?

      Tapi nih.. Aku mau cerita pengalaman konyol aku.. Bukan konyol juga sih, tapi serem dikit but ini biasa. Jadi pas aku bantuin temen diriin tenda, kebetulan aku disuruh megangin tenda paling pojok sendiri, sedang teman cewek pada ngumpul jadi satu (nyari anget) yah awalnya aku biasa-biasa aja, pertama dingin. Pastinya. Setelah itu aku baru sadar kalo aku sendirian,dipojok, deket semak jurang.. Kulihat belakangku.. Angin sepoi menerbangkan helai daun-daun gunung. Bulu kudukku berdiri entah sebab apa, imajinasiku bermain kala itu. Membayangkan sesosok kepala berjubah hitam. Argh aku benci sebenarnya. Kenapa juga suwung amat aku menyadari sekelilingku. Sontak aku berlari ke arah teman-temanku berkumpul. Kulepas saja ujung tenda yang belum usai itu. Alfi bertanya "kenapa dil?" kujawab "dingin aku, pengen deket kalian biar anget" . Haha konyol emang.

        Tenda berdiri dan kami pun segera masuk tenda, memasak air untuk minum dan bikin mie. Kejadian lucu ketika nani bikin mie instans di nesting, tapi sama putra disenggol . Yaaah kasian banget ueee numpek semua tuh mie wkwkw. Memang kala itu kami mengisi perut seperlunya karena kami berpikir untuk segera istirahat. Minum hangat dan tidur. Aku jadi inget gabawa matras. Kebetulan pendakian pertama itu persiapan emang kurang-kurang. Ya biarlah.. Tidur cukup dengan SB.

         Dinginnya malam itu, dikaki gunung. Bertemankan bintang dilangit, kau tau? Suara angin malam itu cukup keras, sampai aku benar" tak bisa tidur. Terdengar seperti badai angin, sangat berisik. Aku tak yakin teman-temanku bisa tidur. Dengan keadaan yang sangat dingin, oh Tuhan. Dingin sekali tanpa matras... Aku tak bisa tidur. Aku selalu menggigil, tapi kutahan. Berharap matahari segera muncul esok hari. Aku masih bisa mendengar ada suara tapak kaki melewati tenda kami, pendaki lain gumamku. Ya mereka mendirikan tenda nya disekitar tenda kami.

       Kira-kira pukul 02.00 dini hari.
Salah seorang temanku, mengalami hypo ringan. Sontak kami semua terbangun. (padahal ga ada yg bisa tidur) si Madah hypo ringan!! Dia mengeluh kaki tangannya kaku. Ya pertolonagn pertama kami ialah membuka sb, ikut masuk salah seorang lalu memeluknya. Sempat kuberikan hem flanelku padanya sebagai alas dibawahnya. Aku pun berlapis kaos katun biasa dan melanjutkan tidur.
Entahlah menyebalkan sekali teman-temanku. Kaki mereka ditumpangrindihkan diatas tubuhku, dibawah , atas samping. Hammms resiko posisi paling bawah. Kontur tenda yang tak sejajar membuat posisi berantakan. Apes sampe subuh . Menggigil dingin.. Tak bisa tidur.

Barulah setelah shalat subuh aku bisa memejamkan mata sebentar, barang 15 menit aku tertidur pulas. Kudengar kawanku Haby memanggil para cewek untuk keluar tenda. Menyaksikan lampu-lampu kota Boyolali, Selo, dan sekitarnya ujarnya. Ogah pikirku. Mager. Dingin dan kencangnya angin membuatku mager keluar tenda. Shubuh yang syahdu memang.







........... Bersambung

Selasa, 27 Agustus 2019

0 Sebuah sajak ilalang di Negri Tapis



Kau pandangi padang ilalang itu yang tak henti-hentinya
bergoyang sepanjang siang. Kau heran gerangan mengapa
mereka tak berdiam sejenak, mungkin meminum kopi
atau membaca koran pagi sebelum ia dibuang atau dijadikan
sampul buku anak-anak mereka. Kami bergoyang
justru karena koran. Dan kau yang bingung mengapa
kau justru dijadikan sampul buku anak-anak itu.
Kau menyeduh kopi itu di atas cangkir abu-abu. Melihat
mereka terus seperti itu membuatmu tak kuasa menahan
pilu. Kau ingin membujuk mereka sejenak tuk beristirahat
bersama dan berbincang tentang hal remeh yang ternyata
malah membuat mereka marah bukan kepalang. Dan kau
yang seduh kopi itu lagi dan mereka yang berbahagia kembali.



Alergi...






 
back to top