Senin, 30 Maret 2020

0 TELISIK PASTEUR

Di tepi batas kota
Tempat manusia memanjat doa
Kota Kembang, sejarah menyebutnya
Kuhantarkan rindu yang segenap mengusik jiwa

Ditanah orang tempatku berdiri
Tugasku bukan menjadi pemandu, bukan pula wisatawan
Canduku memang tak pernah pudar
Sekedar berjalan ditengah keriuhan bumi Pasundan, menyisakan setetes kenangan

Terngiang panorama Paris Van Java, kota melegenda
Hamparan perkebunan teh bersetubuh dengan musimnya
Bersama kabut menyelimuti bulir-bulir embun
Menyesap dingin hantarkan kebahagiaan

Sinar temaram terangi sudut angkringan
Menambah hangat pekatnya malam, kuning mematri layu berpendar
Lintang dilangit malu, menghantarkan rinduku yang bergelut syahdu
Baginya, Tataran Sunda adalah surga, yang didalamnya tercipta bait-bait nada
Berdenting segenap mengharu sukma
Siapa yang tak cinta?

Benteng Pasir Ipis masih menyisakan kisah lama
Disebelahnya taman kota, diruang-ruang pariwisata
Atau Gedung Sate yang menjadi saksi serangan pasukan Gurhaka
Yang tersimpan rapi melawan revolusi penjajah
Tatar Sunda ditegakkan semangat bara sejak dahulu kala,
Bandung Lautan Api hingga dentuman ranjau Belanda
Kota yang terus berbenah lari dari masa suram

Sementara duduk di emperan
Kuseduh kopi hitam perlahan-lahan,
Menyajikan sajak indah di jalan Pateur kini
Dalam kalbu yang tercipta rasa, yang terabadikan dalam memoar
Agar esok kenang selalu tercipta
Kala diri tak lagi bersua.



Bandung, 2018

Senin, 09 Maret 2020

0 Lahirku

Jika Bumi Pertiwi Tanah Kelahiranmu

Renjana tropis dalam buhul Khatulistiwa
Di semenanjung pantai, nyiur-nyiur ikut menari
Melambai, mengiringi nyanyian alam disuatu petang.
Kau tak kehilangan perjalanan,

Dulu sekali kau terjajah oleh pilu.
Sejarah telah mencatatnya
Sukmamu telah lebur, jasadmu terkubur berabad lamanya.
Lihatlah Ananda, engkau lahir dari tulang dan rahim yang kokoh !
Maka sematkan panji-panji keharuman diseluruh pelosok bumi
Agar cerita negri ini terus berjejak

Memasuki Tanjung Kesepian
Kutatap mega mencumbui semburat jingga
Disana terlahir mimpi anak bangsa
Setiap perjalanan yang belum usai
Setiap deru nafas berhembus
Sejenak merenungkan seberapa jauh pencarian ini akan berlabuh.

Bangsaku,
Kita menghirup udaranya
Kita minum airnya
Kita makan dari tanahnya
Kita berteman baik dengan rakyatnya

Dan gugusan gunung pun telah menyadarkanku, bahwa
Seburuk apapun keadaan negara ini,
dan setidak adil apapun alam
Indonesia selalu berhak untuk dicintai.

0 Cerita Rara (Khusus Cerpen Anak)

Selamat Tinggal Kacamata Rara

Hallo teman-teman, perkenalkan namaku Rara, lengkapnya Ratuliu Naswara. Di
rumah, aku biasa dipanggil Rara. Teman-teman di sekolah juga memanggilku begitu.
Sekarang, aku masih sekolah di SDN II Tembalang, Semarang. Oya, aku lahir pada 28
Januari 2007. Jadi umurku sekarang 12 Tahun. Ayahku bernama Zulfikli Nareen dan
bundaku bernama Afifa Arafa. Sekarang aku tinggal di Tembalang, Semarang. Aku anak
terakhir dari 3 bersaudara. Kakakku yang pertama adalah Farhan Sadeka dan yang kedua
Farish Ifanda Bagas. Jadi aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Senang sekali
karena terkadang aku dimanja oleh kakak laki-lakiku. Hehehe asyik bukan.

Aku sangat menyukai cerita dongeng. Terutama Disney’s tentang binatang, seperti
Winnie the Pooh, The Lion King, Stitch, dan masih banyak lagi. Di kamarku banyak sekali
buku cerita, karena setiap minggu, Bunda membelikan satu buku untuk kubaca. Bahkan
boneka pun aku memilikinya.

Selain membaca buku, aku juga senang bermain bersama teman-teman satu komplek.
Aku suka sekali berenang, bermain sepeda, bermain lumpur disawah, dan memanjat pohon.
Seperti anak laki-laki saja ya? Tapi tidak apa-apa kan kalau anak perempuan bisa manjat
pohon juga? Aku senang di atas pohon, bisa duduk-duduk didahan sambil melihat ke bawah.
Serasa jadi paling tinggi deh! Hehehe.

Di sekolah aku juga memiliki banyak teman, tak jarang setelah pulang sekolah
mereka mampir kerumah untuk belajar kelompok maupun sekedar membaca buku cerita.
Meskipun setiap pagi sekolah umum, tiap seminggu sekali aku selalu menyempatkan les
melukis. Selain mendapat teman baru, tentu juga pengalaman baru karena dengan begitu, aku
jadi memiliki banyak teman dan pengetahuanku bertambah banyak. Terus kalau punya
banyak pengetahuan, aku bisa jadi anak pintar. Bukan begitu teman?

Sampai suatu hari dibulan April 2019, tepat pukul 19.30 WIB, pamanku dari Negri
Kincir Angin atau sebutan lain dari Negara Belanda datang ke rumah. Wah senang sekali
rasanya, aku mendapatkan banyak oleh-oleh dari Paman Isnan. Ada buku cerita, boneka
kartun, dan sebuah gadget berlayar sentuh. Hmmm....yang terakhir sungguh membuat hatiku
gembira! Karena selama ini aku belum pernah memegang barang yang satu ini tanpa pendampingan bunda. Lagipula bunda juga tidak akan memberikanku gadget karena aku
masih belum begitu membutuhkan.

Paman Isnan berpesan kepadaku untuk menggunakan gadget sesuai kebutuhan.
“Rara bisa membaca serial cerita dongeng di aplikasi gadget atau juga bisa belajar
melukis online”. Kata paman sembari menyentuh kepalaku.
“Siap Paman, terima kasih banyak hadiahnya, Rara senang sekaliii”. Ucapku girang
sambil membawa kotak yang menurutku sangat misterius itu.
“Waahhhh yang dapet hadiah baru nih, seneng banget keliatannya”. Teriak Kak
Farish terdengar kencang diujung sofa.
“Mana hadiahnya buat aku aja, kamu kan masih kecil. Buat aku aja dehh”. Canda
kakakku satunya, Kak Farhan mencoba merebut kotak itu dari tanganku.
“Hiiiiihhhh kakak kan udah dapet bagiannya sendiri-sendiri, kenapa masih usil sihh”.
Gerutuku sebal sambil menjulurkan lidahku. Walau aku tahu mereka hanya bercanda.
Hahaha.
“Ya sudah yuk, kita makan malam bersama, hari ini bunda masak spesial untuk
semua. Pasti suka!”. Kata bundaku melerai keributan kecil diantara kami.

Keesokan harinya... 06.30 WIB


“Ra..Rara berangkat kapan?” Teriak ayah dari bawah.
“Sebentar, Yah, inii mau turun,” kataku sembari menuruni tangga.
“Sarapan dulu Ra, minum susu dan jangan lupa bekalnya dibawa” Ayah
mengingatkan.
“Lho bunda kemana yah?” Tanyaku penasaran, kulihat sekeliling rumah nampak sepi.
Sementara kedua kakakku memang sudah berangkat pagi tadi.
“Bunda pergi ke pasar, nanti malam ada arisan keluarga. Jadi hari ini bunda sedikit
sibuk Ra”. Jawab ayah singkat.

Wah berarti nanti aku bisa main hape sendiri tanpa bunda! Batinku bersorak senang.
Memang semenjak Paman Isnan memberikanku gadget, aku cukup antusias untuk
mempelajarinya. Sejak saat itu pula, aku mulai belajar mengoperasikan layar hape dengan
bunda. Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mengerti tentang beberapa
fitur aplikasi. Entah bagaimana ceritanya aku mulai menyukai bermain game online.
Jarum jam menunjukkan angka 8 malam. Aku tak terusik degan keributan diluar,
karena di rumahku memang sedang ada acara, jadi aku beralasan mengerjakan PR dikamar.
Padahal aku sedang asyik bermain game dibalik selimut. Hihihi
Tookkk...tokk.. tokkk terdengar suara orang mengetuk pintu dari luar.
“Rara? Buka pintunya yuk, ayo keluar sebentar. Kamu ngapain dikamar terus dari
tadi?” teriak Bunda dari balik pintu. Aku tersentak, buru-buru kusembunyikan gadget dibalik
bantal micky mouse merahku. Fiuhhh untung pintu terkunci.
“Iya Bun sebentar lagiiii” Teriakku sambil berjalan ke arah pintu. Kubuka kunci
perlahan-lahan lalu menyusul bunda ke ruang tengah bersama keluarga besarku. Malam itu
aku langsung tertidur pulas setelah acara keluarga selesai.
“Ratuliu! Raraaa!, ayo bangun nanti terlambat sekolah” Ayah memanggil namaku
untuk segera bangun dari tidur nyenyakku. Uhhh rasanya masih ingin melanjutkan mimpi.
“Aduhhhh, ayah aku masih ngantukk” Aku menguap lebar-lebar sembari mengucek
mata. Aku merasa ada yang aneh dengan mataku, pandanganku terasa kabur dan lelah.
“Ya mau gimana kak, kan kakak harus sekolah...”
“Iya deh, iyaaaa” Aku menjawab dengan malas.
Sampai dikelas.....
“Anak-anak keluarkan PR kalian!” dengan nada yang datar tapi berwibawa. Bu
Yunda, wali kelas VI. Sontak aku menepuk jidatku. Aku lupa mengerjakan PR kawan!
Duhhhh gawat, semalam memang waktu belajar kuhabiskan untuk bermain HP, keringat
dingin mulai membasahi wajahku. Aku bingung sekaligus ketakutan, khawatir kalau-
kalau.......

“Anak-anak siapa yang tidak mengumpulkan PR Bahasa Indonesia?” Tanya Bu guru
Yunda. Akupun dengan ragu-ragu dan masih ketakutan karena sebelumnya aku selalu
mengerjakan PR ku.
“Saya Bu..” Kuangkat tangan kananku sambil menunduk dalam, tak berani menatap
bu Yunda.
“Kenapa tidak dikerjakan Ra?”
“Itu bu.., semalam ketiduran. Maaf bu..” Jawabku lirih
“Yasudah, lain kali jangan di ulangi lagi, sebagai gantinya nanti silahkan datang ke
kantor mengambil surat peringatan”. Fiuhhhh lega, eh tapi surat peringatan? Yah nanti ayah
bunda bakal tau kalau aku tak sempat mengerjakan PR. Ini yang aku khawatirkan.
Ketika mata pelajaran berlanjut. Pelajaran kesukaanku. Bahasa Inggris dengan Miss
Esa. Saat itu keadaanku awalnya baik-baik saja. Aku duduk dibangku ketiga dari depan meja
guru. Namun ketika aku melihat tulisan vocabullary yang ditulis Miss Esa, pandanganku
terasa aneh, huruf demi hurufnya seperti menari-nari dimataku. Awalnya aku biasa saja.
“Olin, pindah tempat yuk?” kupanggil temanku Olin yang duduk di depan papan tulis.

“Pindah gimana?”. “Ya pindah tempat, kita tukeran posisi ya? Mau kan Lin? bantu
aku, aku merasa ada yang aneh dengan mataku.” Bujukku dengan wajah memelas.
“Iya deh, boleh”. Akhirnya dia bersedia juga!
“Makasih Olin, hehehe”.
Sesampainya dirumah, aku langsung memberitahu bunda perihal penglihatanku, takut
terjadi apa-apa dengan diriku.
“Yasudah, sore nanti kita pergi periksa ke dokter. Tapi nunggu ayah pulang kerja dulu
ya Ra”. Jawab bunda
“Iya bunda gapapa, oiya bun tadi Bu Yunda titip surat buat ayah sama bunda. Ini...”
kusodorkan amplop berwarna putih.
“Surat apa Ra? Kok tumben bu Yunda nitip surat” nampak wajah bunda terheran
melihatnya. Matanya menyipit membaca surat itu. Nampaknya bunda kaget.

“Sejak kapan Rara tidak mengerjakan PR? Selama ini Rara belum pernah seperti ini
sebelumnya?”
“Itu Bun, kemarin Rara lupa ngerjain soalnya keasyikan main game...” Jawabku jujur.
“Ooo begitu, jadi selama ini Rara sering menatap layar gadget tanpa sepengetahuan
bunda? Iya? Pantas matamu cepat minus Rara” Bunda mencubit pipiku gemas.
“Nanti kita periksa apa memang benar matamu gejala minus”. Ujar bunda setelah
menasehatiku panjang lebar. Mulai sekarang bunda akan membatasi waktuku memegang
layar gadget teman.. huhuhu sedih rasanya.

Dan sore harinya setelah pak dokter memeriksa mataku, ternyata memang benar
teman. Berdasarkan pemeriksaan dokter, aku dinyatakan minus dan harus menggunakan
kacamata. Padahal aku tidak mau pakai kacamata, aku ingin mataku normal seperti sediakala.
Dan ini menambah kesedihanku. Aku merasa minder jika harus menggunakan kacamata
didepan teman-temanku.

Lambat laun aku pun mulai membiasakan bagaimana mengatur pola hidup sehat,
seperti kata bunda Rara. Walau awalnya terpaksa, lama-lama terbiasa dan membudaya.
Awalnya aku juga merasa sulit tapi lama kelamaan ternyata ringan juga lho teman!. Sampai
pada akhirnya setelah usahaku untuk rajin meminum jus wortel dan macam-macam sayuran
serta membatasi penggunan layar. Akhirnya mata minusku dinyatakan sembuh total! Waaahh
bahagia sekali aku bisa melihat dengan normal lagi tanpa kacmata tentunya.
Aku rasa tidak ada salahnya mencegah daripada mengobati lho teman. Sekarang
saatnya ku ucapkan selamat tinggal pada kacamata.....

0 Koin

Hitam putih
Merah jingga
Biru kelabu
Mewarnai perjalanan waktu demi waktu

Tidak mungkin manusia memusuhi duka terlalu lama,
Karena ia seperti sisi mata uang yang mengiringi sukacita.

Kapankah kita merasakan tawa bahagia jika belum merasakan getirnya papa?

Kapankah kita menghargai nikmat sehat bila belum pernah tergolek sakit tak berdaya?

Kapankah kita merasakan indahnya memiliki jika belum pernah merasakan sakitnya kehilangan?


jeda

0 Kepada Merapi

Tratapan Siti Hinggil


Garis hidup pada sekotak lahan, seperti celurit yang menikam.
Satu ayunan mencabik tanah, padi tumbuh menyemai ketika
dingin fajar masih membuta, dan abu masih pada tungku perapian.
Jerit jendela kamar yang berderit-derit, terdengar hingga ke ruang tengah.

Sesekali bunyi jangkrik bersahutan, menekuri langit-langit kehidupan.
Hari baru saja dimulai, ketika gubuk reyot beratap daun kelapa
dan panggrok bambu terpasang di beranda.
Wajah itu menengadah pada lukisan-lukisan Sang Khaliq.
Buih-buih kali mengalir dalam tubuhnya, hijau menggericik jiwa,
Bungker Kaliadem menjadi saksi, ketika sautan cucak rowo menari-nari.

Kelap-kelip lampu tintir akan meredup,
Seiring habisnya malam, memecah kesunyian
diantara bulan, langit, dan bayang-bayang segitiga,
ada kalanya satu hati terbolak-balikkan keadaan.

Adinda telah lenyap, menyatu dalam kawah ketakutan, tak kembali.
Sejarah telah mencatat kepergiannya, hingga tersisa hanya kerut wajah yang
terluka, bak api terburai dalam hati. Pak Tani bergeming.
Lantas pergi, rantang ditangan kiri, cangkul, dan tanah ia susuri.

Nun jauh di batas kota, kaki-kaki melangkah,
Sepasang mata anak sekolah membuncah, Menunjuk-nunjuk arah utara.

Kapas bergemul, bagai gula-gula putih,
Membumbung tinggi merajai angkasa raya
Kaliurang sedang meradang, suara Bun–bun berkentongan tanda,
desakan pada subduksi lempeng tektonik.

Babinsa berteriak dikejauhan, menatap cadas kekhawatiran
“Apakah siti hinggil marah kembali?”
Kapas–kapas indah bak bunga kol,
meluncur menikam yang dilaluinya, berlomba-lomba melibas, tanah-tanah karam
merah bercampur jingga, hingga udara terkunci rapat.

Lalu sengatan maut, seakan cemas bertemu Tuhanmu.
Bahkan sebelum burung hitam terbang mengudara, bertengger di atap rumah,
sirine peringatan telah diberitakan, namun tetap terabaikan,
hingga jiwa-jiwa itu, berubah menjadi abu, debu, tersapu panasnya
Wedhus Gembel dari mulut Gunung Merapi.

(Event Hunter Indonesia)

0 Cassava


Ketika kehidupan tak memberikan jawaban. Semua akan tetap tersimpan dalam pemikiran-pemikiran yang tiada arti. Kecuali sebuah pemikiran berujung aksi.


Di bawah mentari pagi, aku termenung di kursi bambu yang telah renta, dipayungi sulur-sulur daun markisa. Nampaknya pohon itu tumbuh subur meski aku dan kakakku jarang merawat. Bunyi lonceng sayup tedengar di seberang jalan tanda waktu masuk sekolah dimulai, kulihat dari kejauhan anak-anak SD memasuki gerbang dengan ceria sambil menyanyikan lagu baru yang diajarkan guru mereka. Yah guru SD, ingatan tentang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, sabar, dan penuh kasih sayang yang telah berpulang 16 tahun silam...
Minggu pagi. Langit begitu cerah membiru hari itu. Jalanan terlihat ramai, sungguh memekakkan telinga. Kendaraan lalu lalang, sesekali kernet bus berteriak memanggil para penumpang setianya. Hari minggu memang istimewa, selain bagi para siswa, pun guru-gurunya. Setidaknya hari itu tidak ada agenda rapat dinas untuk seorang ibu guru SD sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Ibu ini baru pulang berbelanja dari pasar, sesekali menggandeng tangan gadis sulungnya yang mulai beranjak remaja.
Namun, sampai di belokan persimpangan rumahnya, ia melihat kericuhan gaduh terjadi. Dan benar, rumah yang ia tinggalkan terbakar! Tiba-tiba ia teringat. Anaknya si bungsu yang baru berumur satu tahun berada didalam rumah itu. Bergegas sang ibu berlari secepat-cepatnya. Belanjaan ditangannya ia lemparkan. Si sulung menangis memanggil-manggil ibunya, sementara warga panik memadamkan api yang semakin berkobar menyala-nyala. Tak menghiraukan jika satu insan menyelinap nekat masuk kedalam rumah. Dia terobos kobaran api yang makin membesar. Demi menyelamatkan buah hatinya. Ia terluka. Berdarah-darah. Api membakar tubuhnya. Kepalanya terasa pening. Tertimpa genting dan reruntuhan puing. Tapi tidak peduli demi buah hati. Sakit tak dirasakannya. Ia terus menerobos mencari-cari. Kepulan asap membuat dada semakin sesak. Akhirnya dia dapati sang bayi. Terkapar dalam luka bakar.
Buru-buru ia gendong dalam rengkuhannya. Tertatih-tatih menerobos keluar dari api yang berkobar. Ia membelai sang anak, dan bergegas mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat. Berjibaku dengan waktu, seorang ibu yang tak secuil pun merasakan pedihnya sakit dan luka. Fokus pada buah hatinya. Permata hatinya. “Anakku... Anakku”. Cintanya begitu besar sampai ia baru menyadari, tubuhnya penuh luka bakar. Kepala, tangan, punggung dan kakinya sudah tidak menentu kondisinya. Sang ibu baru merasakan sakit ketika buah hatinya dalam penanganan medis. Dadanya sakit yang kian menyesakkan. Dan saat itulah takdir berkata lain. Setelah begitu lama tenggelam dalam komanya, ibunda tercinta telah berpulang kembali ke Pemiliknya.
“Sa.. kok ngelamun gitu? mikirin apa kamu?.” Tangan halus itu menyentuh kedua bahuku.
“Tidak mbak[1], hanya teringat ibu saja. Kadang aku masih menyesalkan hal itu.” Kuseka air yang kian memanas dimataku. “Ibu telah tiada demi menyelamatkanku dari petaka itu dan sekarang aku merindukan kasih sayang yang belum kurasakan sepenuhnya.” Kini air mataku meluncur deras.
”Sava, sudah jangan kau sesali itu. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya, sudah menjadi kodrat-Nya. Kita sebagai manusia harus menerima dengan sabar dan menjalaninya dengan hati yang ikhlas. Allah tau apa yang terbaik untuk hambanya. Ingat Va, disini masih ada kakak yang selalu ada untukmu. Doakan yang terbaik untuk ayah dan ibu ya Va...”
“Iya mbak pasti.” Kupeluk Mbak Ikmal erat dalam dekapanku ketika air mata masih menetes membasahi jilbabnya.
“Udah beres semua barang bawaanmu? Kalau belum segera yuk Nduk[2], nanti ketinggalan kereta lho.” Dia menatapku lembut dengan mata bulatnya yang hitam, mata yang sangat kusukai.
“Udah kok mbak, udah beres semua tinggal berangkat aja.” Aku segera beranjak dari panggrok[3] bambu yang sedari tadi kududuki. Mbak Ikmal memang sengaja ingin mengantarkanku berangkat kuliah di sebuah universitas negeri di Solo. Langkah kaki kami mulai meninggalkan daerah Piyungan menuju Stasiun Tugu Jogja. Alhamdulillah berkat nilai rapor selama SMA, aku lolos SNMPTN sekaligus beasiswa penuh dari pemerintah selama empat tahun. Hal itu tentu meringankan beban Mbak Ikmal perihal biaya.
Mbak Ikmal. Sosok penuh arti dalam hidupku. Dia adalah kakakku, satu-satunya berbagi curahan hati. Dia adalah tulang punggung semenjak kami yatim piatu. Ayah mengalami kecelakaan sewaktu aku masih didalam kandungan. Mungkin itu alasan ibu menamaiku Cassava yang berarti singkong. Karena ayah sangat menyukai umbi singkong. Entahlah. Barangkali ibu ingin untuk mengenang ayah semasa hidupnya.
Aku masih ingat. Tanpa sedikitpun keluh kesah dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu waktu itu, ia menyuapi nasi untukku yang masih TK. Dengan mengabaikan lelah ia kembali berkutat dengan gilingan gandum, melanjutkan usaha kue yang ia geluti. Kedua tangan kurusnya enggan berhenti, terus bergerak mengurus segala kebutuhanku, bahkan kadang ia rela menahan melilitnya perut asal aku tetap makan. Meski usaha roti kami tidak mampu berlari cepat sebagaimana pabrik-pabrik roti yang kian menjamur. Tetapi berkat kejujuran dan keuletan, usaha roti kami tetap bertahan. Tetap mendapatkan hati dikalangan pelanggan.
Walaupun begitu, keadaan inilah yang membuat semangatku melejit dalam menghadapi hidup. Alhamdulillah sejak SD kelas satu hingga kelas enam, aku selalu menempati rangking satu. Di SMP dulu pun aku juga mendapat peringkat memuaskan. Di kelas satu aku rangking dua, kemudian di kelas dua dan tiga selalu mendapat rangking pertama. Aku juga terpilih menjadi ketua OSIS di SMP dan sering diikutsertakan dalam berbagai ajang lomba baik tingkat provinsi maupun nasional. Dengan prestasi itu, setidaknya aku berhasil membuat Mbak Ikmal bahagia. Mbak Ikmal yang selalu mendoakanku agar kelak menjadi orang suskses.
Sejak duduk dibangku SMA, aku memang telah memutuskan untuk menjadi organisatoris[4]. Pengalamanku selama duduk dibangku sekolah membuat keputusan itu begitu kuat dalam hati dan pikiranku. Banyak hal luar biasa yang kudapat selama mengikuti organisasi. Sesuatu yang tidak kudapat selama masa belajar. Organisasi membuatku mengenal dan dikenal. Membuatku merasa tenang dan senang. Berimbang. Membuatku lebih sabar dan tegar. Membuatku lebih dihargai dan tentu lebih berarti. Mulai dari mengikuti OSIS, Bantara, Paskibra, dan seluruh organisasi di sekolah. Walaupun disibukkan dengan organisasi, pada akhirnya aku lulus dengan sangat memuaskan. Alhamdulillah berkat usaha, doa, dan niat kesungguhan tentunya.
“Maissy, kamu mau kemana?” tanyaku seusai mata perkuliahan Linguistik Umum hari itu.
“Emm, mau ke kantin nih. Ikutan yuk Va? Sekalian makan siang sama Hanggi dan Rendy?.” Tangan usil Maissy menarik-narik ujung kemeja Rendy.
“Heh Ren? Ngapain sih kamu ngeliatin hape terus dari tadi.” Tanya Hanggi sembari mendekati Rendy. Seolah-olah ingin tahu matanya melirik-lirik layar hape seperempat inci itu.
“Aku lagi sibuk nyiapin program kerja HMP nih. Kalian duluan aja ya.” Jawabnya setelah membenarkan kacamatanya yang melorot. Kacamata kuda. Batinku sambil tertawa dalam hati.
“Ehh, proker apaan nih kalau boleh tau? Seminar ya?” Ujarku sok tau.
“Tau aja kamu Sav, iyaaa niihhh temanya keren lhoo. Peran Generasi Muda Sebagai Agent of Repair [5]di Era Milenial!!” Teriaknya heboh sendiri, dengan gerakan bibir yang berlebihan dan bola mata yang digerakkan kekiri dan kekanan. Agak aneh memang kawanku satu ini.
“Wow keren, ikutan yuk gaes” Kulirik Maissy dan Hanggi bergantian. “Daripada nganggur ujung-ujungnya nongkrong gak jelas gitu loh” Terlihat raut muka keduanya memalingkan muka.
“Lagian nih ya Sav, emang kamu nggak capek ya. Organisasimu itu udah banyak. Kegiatanmu apalagi. Masih aja rajin ikutan seminar yang...” belum sempat Hanggi menyelesaikan kalimatnya, Maissy yang sedari tadi diam angkat bicara.
“Cassava, aku pengen tau. Alasan kamu ikut organisasi itu apa sih sebenernya Va?”
“Ya banyak hal positif yang kudapat dari organisasi. Salah satunya aku bisa memiliki banyak teman. Tidak hanya dari tingkat universitas, tapi juga dari berbagai kampus yang ada di Indonesia. Aku juga dapat ilmu, pengalaman, dan aku pun bisa mengunjungi banyak tempat indah dengan gratis. Enak kan?”
“Enak emang makanan” Celetuk Rendy.
“Terus bagaimana cara kamu mengatur waktu itu semua coba? Tugas iya,  belajar iya, gak pernah sakit? Otomatis istirahatmu kan cuma sebentar” Maissy bertanya lagi.
“Mahasiswa itu agent of change [6] Sy, tumpuan dan harapan masyarakat. Dipundak kitalah masyarakat menggantungkan masalahnya. Dan kita tentu saja tidak bisa mengabaikan hal itu. Kita tidak bisa hanya duduk, diam, dan melihat. Waktu yang kita miliki, pikiran yang kita miliki, tenaga yang kita miliki, semuanya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tapi, ada hak orang lain disitu. Hak masyarakat. Dan sebagai mahasiswa, tentu saja kita berkewajiban untuk menunaikan hak itu.” Kuhela sedikit nafas dan berusaha meyakinkan mereka.
“Jadi, gimana?” Aku memecah keheningan yang sesaat lamanya menyelimuti.
“Apanya?” jawab Maissy, Hanggi, dan Rendy hampir bersamaan.
“Ya... dengan semua penjelasanku. Kalian masih meragukan manfaat organisasi? Masih gak mau ikut organisasi? Nggak bakal nyesel nih? Organisasi itu pengalaman dasar untuk terjun di masyarakat. Itu juga jadi salah satu hal yang akan ditanyakan jika nanti kalian wawancara kerja. Saat ini bukan IQ atau hasil ijazah yang nomer satu, kemampuan, keterampilan kalian juga dibutuhkan.” Aku berbicara menggebu-gebu memanasi mereka.
Dengan hal ini aku berharap teman-temanku dapat berubah, aku berharap dapat menjadi inspirasi bagi mereka. Perjalanan sebagai seorang mahasiswa tidak hanya terhenti sebagai mahasisa yang biasa saja. Mahasiswa dapat menentukan langkah-langkahnya untuk memilih sebagai mahasiwa biasa, maupun yang luar biasa. Karena sejatinya belajar itu tidak hanya belajar didalam kelas saja.
“Ya kita kan nggak bisa kaya kamu Sav. Antara organisasi, prestasi, semua jalan. Lha kita?” Ucap Hanggi ragu.
“Jangan gitu dong Nggi, setiap orang punya jalan juang masing-masing. Begitupula kalian. Lagian bermanfaat untuk orang lain dan untuk diri sendiri tidak harus ikut organisasi juga kok. Aku yakin kalian punya bakat minat yang bisa kalian kembangkan. Ikut UKM yang bisa menyalurkan bakat minat kalian deh. Sebelum semuanya terlambat hehehee.” Hiburku sambil tertawa.
“Hehehe, iya nanti deh siap. Sekarang kita makan siang dulu aja. Kasian udah bunyi terus tuh perutnya Maissy.” Kelekar Rendy. Aku hanya bisa tertawa dan menghela nafas sembari merangkul pundak kedua sahabat perempuanku itu. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Yang jelas aku hanya ingin mereka berubah lebih baik lagi.
Aku mengambil Fakultas Pertanian dengan jurusan Ilmu Teknologi Pangan. Kebetulan aku sangat menyukai dunia keilmiahan. Dengan bekal pengalaman organisasi karya ilmiah sejak SMA, aku terus melatih dengan mengikuti ajang kompetensi baik tingkat universitas, provinsi, maupun nasional. Diwaktu dekat ini, aku dan kedua temanku berhasil lolos dalam perlombaan se-Asia Tenggara dan hebatnya baru pertama kali inilah aku diberi kesempatan ke luar negeri dengan gratis. Berkat kerja tim beranggotakan tiga orang, riset yang sedang kuteliti mengenai inovasi formula “Allium cepa” [7]dari limbah kulit bawang merah sebagai produk pestisida pembasmi ulat, berhasil mengantarkanku mengunjungi negeri Sakura. Salah-satu negara maju di Asia Tenggara.
Maksimalkan minimalmu. Dengan aktif berprestasi entah dibidang apapun itu, manfaat yang aku dapatkan semakin terbuka lebar. Wawasan pengetahuan semakin terpampang nyata didepan. Aku yakin dan bertekad suatu saat nanti ilmu yang kudapat akan bermanfaat dikemudian hari.
Dua tahun kemudian...
Bangunan minimalis itu masih terlihat sama seperti 20 tahun yang lalu. Guratan ubin kayu dan panggrok bambu masih setia menghiasi beranda rumahku. Perbedaan paling mencolok hanyalah pohon markisa yang kini digantikan sulur-sulur tanaman anggur dan toko roti yang kini berdiri persis didepan rumah.
Kini ia sudah hampir berkepala empat, namun kecantikannya masih sempurna, sama seperti 10 tahun silam. Ketegarannya menerjang hidup terus mengeras, membatu, bahkan membatu karang. Dia telah sukses mengantarkan wisuda kelulusan sarjanaku. Purnamaku, begitulah aku memanggilnya. Dan ketika kupanggil demikian, lesung pipinya benar-benar menghias senyum manis diwajahnya. Cantik. Malam itu, rintik hujan ditingkahi suara jangkrik menemani obrolan kami.
“Mbak, Cassava kan udah lulus cumlaude seperti yang mbak inginkan. Sekarang bolehkan aku meminta Mbak Ikmal menepati janji?” Tanyaku sambil menyandarkan kepala manja dibahunya yang sedang menyeduh teh.
“Janji apa to Va? Apa mbakmu ini masih punya janji sama kamu hm?” Dia menatapku dengan dengan lesung pipi yang terlihat dikedua sisinya.
“Mbak ini gimana to, apa Mbak Ikmal tidak berkeinginan untuk memiliki pendamping hidup?” Ada gurat gelisah dalam wajahnya, namun selalu saja ia mampu menutupi kegelisahannya dengan tegar. Selalu saja ia menanggapinya dengan senyum.
“Kamu ini baru satu minggu lulus kok sudah ribut to Nduk.” Mbak Ikmal seolah tau apa yang mengguntur dihatiku, aku berusaha menjawab setenang mungkin. Kemudian aku mengumpulkan keberanian.
“Mbak, jadi Cassava diberi kesempatan melanjutkan jenjang studi S-2 di Tokyo, tapi Sava ragu antara mengambilnya atau tidak. Sava bisa saja tetap melanjutkan S-2 di Indonesia, tapi...” Kulihat ia yang mendengarnya langsung menyerngitkan dahi
“Tapi apa?”
“tapi Mbak Ikmal bagaiamana? Siapa yang menemani Mbak Ikmal nanti?” Aku menangis sesenggukan, kupeluk ia erat. “Nanti kesepian gimana?.”
“Sssstt... Kamu ngomong apa to, coba pikirkan kembali. Jika keputusanmu itu memang yang terbaik untuk masa depan kamu, kenapa masih ragu? Jangan khawatirkan Mbakmu. Istiharahlah, Nduk. Semoga pilihanmu yang terbaik.” Malam ini berakhir dengan kalimat itu. Aku hanya bisa menangis.
Satu bulan setelah itu, dibawah langit biru kota kelahiranku, Yogyakarta. Kota istimewa yang akan selalu kurindukan. Akhirnya perpisahan itu terjadi dengan linangan air mata kami. Satu jam lagi pesawat keberangkatanku tiba. Dan aku masih tak henti-hentinya memandangi wajahnya. Bismillah, dengan izin-Nya dan ridha Purnamaku, aku siap melangkah mantap dan lurus menatap masa depan.
Terimakasih Purnamaku, semoga engkau segera menemukan kebahagiaanmu. Mimpi seperti jalan berlubang. Arah dan terjal kerikil tajam kan kulalui. Karena aku yakin bahwa sebesar apapun rintangan yang akan kuhadapi ke depan, aku masih punya Allah yang jauh Maha Besar. Aku akan berjuang. Sampai lelah itu lelah mengikutiku. Dan akan kupastikan lelah bukan alasanku untuk mundur. Tokyo Institute Of Technology. Aku datang.


Bersambung....



 
back to top