Ketika kehidupan tak
memberikan jawaban. Semua akan tetap tersimpan dalam pemikiran-pemikiran yang
tiada arti. Kecuali sebuah pemikiran berujung aksi.
Di bawah
mentari pagi, aku termenung di kursi bambu yang telah renta, dipayungi
sulur-sulur daun markisa. Nampaknya pohon itu tumbuh subur meski aku dan
kakakku jarang merawat. Bunyi lonceng sayup tedengar di seberang jalan tanda
waktu masuk sekolah dimulai, kulihat dari kejauhan anak-anak SD memasuki
gerbang dengan ceria sambil menyanyikan lagu baru yang diajarkan guru mereka.
Yah guru SD, ingatan tentang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, sabar, dan
penuh kasih sayang yang telah berpulang 16 tahun silam...
Minggu pagi.
Langit begitu cerah membiru hari itu. Jalanan terlihat ramai, sungguh
memekakkan telinga. Kendaraan lalu lalang, sesekali kernet bus berteriak
memanggil para penumpang setianya. Hari minggu memang istimewa, selain bagi
para siswa, pun guru-gurunya. Setidaknya hari itu tidak ada agenda rapat dinas
untuk seorang ibu guru SD sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Ibu ini baru pulang
berbelanja dari pasar, sesekali menggandeng tangan gadis sulungnya yang mulai
beranjak remaja.
Namun, sampai
di belokan persimpangan rumahnya, ia melihat kericuhan gaduh terjadi. Dan
benar, rumah yang ia tinggalkan terbakar! Tiba-tiba ia teringat. Anaknya si
bungsu yang baru berumur satu tahun berada didalam rumah itu. Bergegas sang ibu
berlari secepat-cepatnya. Belanjaan ditangannya ia lemparkan. Si sulung
menangis memanggil-manggil ibunya, sementara warga panik memadamkan api yang
semakin berkobar menyala-nyala. Tak menghiraukan jika satu insan menyelinap
nekat masuk kedalam rumah. Dia terobos kobaran api yang makin membesar. Demi
menyelamatkan buah hatinya. Ia terluka. Berdarah-darah. Api membakar tubuhnya.
Kepalanya terasa pening. Tertimpa genting dan reruntuhan puing. Tapi tidak
peduli demi buah hati. Sakit tak dirasakannya. Ia terus menerobos mencari-cari.
Kepulan asap membuat dada semakin sesak. Akhirnya dia dapati sang bayi.
Terkapar dalam luka bakar.
Buru-buru ia
gendong dalam rengkuhannya. Tertatih-tatih menerobos keluar dari api yang
berkobar. Ia membelai sang anak, dan bergegas mencari pertolongan ke rumah
sakit terdekat. Berjibaku dengan waktu, seorang ibu yang tak secuil pun merasakan
pedihnya sakit dan luka. Fokus pada buah hatinya. Permata hatinya. “Anakku...
Anakku”. Cintanya begitu besar sampai ia baru menyadari, tubuhnya penuh luka
bakar. Kepala, tangan, punggung dan kakinya sudah tidak menentu kondisinya.
Sang ibu baru merasakan sakit ketika buah hatinya dalam penanganan medis. Dadanya
sakit yang kian menyesakkan. Dan saat itulah takdir berkata lain. Setelah
begitu lama tenggelam dalam komanya, ibunda tercinta telah berpulang kembali ke
Pemiliknya.
“Sa.. kok ngelamun
gitu? mikirin apa kamu?.” Tangan halus itu menyentuh kedua bahuku.
“Tidak mbak[1],
hanya teringat ibu saja. Kadang aku masih menyesalkan hal itu.” Kuseka air yang
kian memanas dimataku. “Ibu telah tiada demi menyelamatkanku dari petaka itu
dan sekarang aku merindukan kasih sayang yang belum kurasakan sepenuhnya.” Kini
air mataku meluncur deras.
”Sava, sudah
jangan kau sesali itu. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya, sudah menjadi kodrat-Nya.
Kita sebagai manusia harus menerima dengan sabar dan menjalaninya dengan hati
yang ikhlas. Allah tau apa yang terbaik untuk hambanya. Ingat Va, disini masih
ada kakak yang selalu ada untukmu. Doakan yang terbaik untuk ayah dan ibu ya
Va...”
“Iya mbak
pasti.” Kupeluk Mbak Ikmal erat dalam dekapanku ketika air mata masih menetes
membasahi jilbabnya.
“Udah beres
semua barang bawaanmu? Kalau belum segera yuk Nduk[2],
nanti ketinggalan kereta lho.” Dia menatapku lembut dengan mata bulatnya yang
hitam, mata yang sangat kusukai.
“Udah kok
mbak, udah beres semua tinggal berangkat aja.” Aku segera beranjak dari
panggrok[3]
bambu yang sedari tadi kududuki. Mbak Ikmal memang sengaja ingin mengantarkanku
berangkat kuliah di sebuah universitas negeri di Solo. Langkah kaki kami mulai
meninggalkan daerah Piyungan menuju Stasiun Tugu Jogja. Alhamdulillah berkat
nilai rapor selama SMA, aku lolos SNMPTN sekaligus beasiswa penuh dari
pemerintah selama empat tahun. Hal itu tentu meringankan beban Mbak Ikmal
perihal biaya.
Mbak Ikmal.
Sosok penuh arti dalam hidupku. Dia adalah kakakku, satu-satunya berbagi
curahan hati. Dia adalah tulang punggung semenjak kami yatim piatu. Ayah
mengalami kecelakaan sewaktu aku masih didalam kandungan. Mungkin itu alasan
ibu menamaiku Cassava yang berarti singkong. Karena ayah sangat menyukai umbi
singkong. Entahlah. Barangkali ibu ingin untuk mengenang ayah semasa hidupnya.
Aku masih
ingat. Tanpa sedikitpun keluh kesah dengan masih mengenakan seragam putih
abu-abu waktu itu, ia menyuapi nasi untukku yang masih TK. Dengan mengabaikan
lelah ia kembali berkutat dengan gilingan gandum, melanjutkan usaha kue yang ia
geluti. Kedua tangan kurusnya enggan berhenti, terus bergerak mengurus segala
kebutuhanku, bahkan kadang ia rela menahan melilitnya perut asal aku tetap
makan. Meski usaha roti kami tidak mampu berlari cepat sebagaimana
pabrik-pabrik roti yang kian menjamur. Tetapi berkat kejujuran dan keuletan, usaha
roti kami tetap bertahan. Tetap mendapatkan hati dikalangan pelanggan.
Walaupun
begitu, keadaan inilah yang membuat semangatku melejit dalam menghadapi hidup.
Alhamdulillah sejak SD kelas satu hingga kelas enam, aku selalu menempati
rangking satu. Di SMP dulu pun aku juga mendapat peringkat memuaskan. Di kelas
satu aku rangking dua, kemudian di kelas dua dan tiga selalu mendapat rangking
pertama. Aku juga terpilih menjadi ketua OSIS di SMP dan sering diikutsertakan
dalam berbagai ajang lomba baik tingkat provinsi maupun nasional. Dengan
prestasi itu, setidaknya aku berhasil membuat Mbak Ikmal bahagia. Mbak Ikmal
yang selalu mendoakanku agar kelak menjadi orang suskses.
Sejak duduk
dibangku SMA, aku memang telah memutuskan untuk menjadi organisatoris[4]. Pengalamanku selama duduk dibangku
sekolah membuat keputusan itu begitu kuat dalam hati dan pikiranku. Banyak hal
luar biasa yang kudapat selama mengikuti organisasi. Sesuatu yang tidak kudapat
selama masa belajar. Organisasi membuatku mengenal dan dikenal. Membuatku
merasa tenang dan senang. Berimbang. Membuatku lebih sabar dan tegar. Membuatku
lebih dihargai dan tentu lebih berarti. Mulai dari mengikuti OSIS, Bantara,
Paskibra, dan seluruh organisasi di sekolah. Walaupun disibukkan dengan
organisasi, pada akhirnya aku lulus dengan sangat memuaskan. Alhamdulillah
berkat usaha, doa, dan niat kesungguhan tentunya.
“Maissy, kamu
mau kemana?” tanyaku seusai mata perkuliahan Linguistik Umum hari itu.
“Emm, mau ke
kantin nih. Ikutan yuk Va? Sekalian makan siang sama Hanggi dan Rendy?.” Tangan
usil Maissy menarik-narik ujung kemeja Rendy.
“Heh Ren?
Ngapain sih kamu ngeliatin hape terus dari tadi.” Tanya Hanggi sembari
mendekati Rendy. Seolah-olah ingin tahu matanya melirik-lirik layar hape
seperempat inci itu.
“Aku lagi
sibuk nyiapin program kerja HMP nih. Kalian duluan aja ya.” Jawabnya setelah
membenarkan kacamatanya yang melorot. Kacamata kuda. Batinku sambil tertawa
dalam hati.
“Ehh, proker
apaan nih kalau boleh tau? Seminar ya?” Ujarku sok tau.
“Tau aja kamu
Sav, iyaaa niihhh temanya keren lhoo. Peran Generasi Muda Sebagai Agent of Repair [5]di
Era Milenial!!” Teriaknya heboh sendiri, dengan gerakan bibir yang berlebihan dan
bola mata yang digerakkan kekiri dan kekanan. Agak aneh memang kawanku satu
ini.
“Wow keren,
ikutan yuk gaes” Kulirik Maissy dan Hanggi bergantian. “Daripada nganggur
ujung-ujungnya nongkrong gak jelas gitu loh” Terlihat raut muka keduanya
memalingkan muka.
“Lagian nih ya
Sav, emang kamu nggak capek ya. Organisasimu itu udah banyak. Kegiatanmu
apalagi. Masih aja rajin ikutan seminar yang...” belum sempat Hanggi
menyelesaikan kalimatnya, Maissy yang sedari tadi diam angkat bicara.
“Cassava, aku
pengen tau. Alasan kamu ikut organisasi itu apa sih sebenernya Va?”
“Ya banyak hal
positif yang kudapat dari organisasi. Salah satunya aku bisa memiliki banyak
teman. Tidak hanya dari tingkat universitas, tapi juga dari berbagai kampus
yang ada di Indonesia. Aku juga dapat ilmu, pengalaman, dan aku pun bisa
mengunjungi banyak tempat indah dengan gratis. Enak kan?”
“Enak emang
makanan” Celetuk Rendy.
“Terus
bagaimana cara kamu mengatur waktu itu semua coba? Tugas iya, belajar iya, gak pernah sakit? Otomatis
istirahatmu kan cuma sebentar” Maissy bertanya lagi.
“Mahasiswa itu
agent of change [6] Sy, tumpuan dan harapan masyarakat.
Dipundak kitalah masyarakat menggantungkan masalahnya. Dan kita tentu saja
tidak bisa mengabaikan hal itu. Kita tidak bisa hanya duduk, diam, dan melihat.
Waktu yang kita miliki, pikiran yang kita miliki, tenaga yang kita miliki,
semuanya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tapi, ada hak orang lain disitu. Hak
masyarakat. Dan sebagai mahasiswa, tentu saja kita berkewajiban untuk
menunaikan hak itu.” Kuhela sedikit nafas dan berusaha meyakinkan mereka.
“Jadi,
gimana?” Aku memecah keheningan yang sesaat lamanya menyelimuti.
“Apanya?”
jawab Maissy, Hanggi, dan Rendy hampir bersamaan.
“Ya... dengan
semua penjelasanku. Kalian masih meragukan manfaat organisasi? Masih gak mau
ikut organisasi? Nggak bakal nyesel nih? Organisasi itu pengalaman dasar untuk
terjun di masyarakat. Itu juga jadi salah satu hal yang akan ditanyakan jika
nanti kalian wawancara kerja. Saat ini bukan IQ atau hasil ijazah yang nomer
satu, kemampuan, keterampilan kalian juga dibutuhkan.” Aku berbicara
menggebu-gebu memanasi mereka.
Dengan hal ini
aku berharap teman-temanku dapat berubah, aku berharap dapat menjadi inspirasi
bagi mereka. Perjalanan sebagai seorang mahasiswa tidak hanya terhenti sebagai
mahasisa yang biasa saja. Mahasiswa dapat menentukan langkah-langkahnya untuk
memilih sebagai mahasiwa biasa, maupun yang luar biasa. Karena sejatinya
belajar itu tidak hanya belajar didalam kelas saja.
“Ya kita kan
nggak bisa kaya kamu Sav. Antara organisasi, prestasi, semua jalan. Lha kita?”
Ucap Hanggi ragu.
“Jangan gitu
dong Nggi, setiap orang punya jalan juang masing-masing. Begitupula kalian.
Lagian bermanfaat untuk orang lain dan untuk diri sendiri tidak harus ikut
organisasi juga kok. Aku yakin kalian punya bakat minat yang bisa kalian
kembangkan. Ikut UKM yang bisa menyalurkan bakat minat kalian deh. Sebelum
semuanya terlambat hehehee.” Hiburku sambil tertawa.
“Hehehe, iya
nanti deh siap. Sekarang kita makan siang dulu aja. Kasian udah bunyi terus tuh
perutnya Maissy.” Kelekar Rendy. Aku hanya bisa tertawa dan menghela nafas
sembari merangkul pundak kedua sahabat perempuanku itu. Entah apa yang mereka
pikirkan saat ini. Yang jelas aku hanya ingin mereka berubah lebih baik lagi.
Aku mengambil
Fakultas Pertanian dengan jurusan Ilmu Teknologi Pangan. Kebetulan aku sangat
menyukai dunia keilmiahan. Dengan bekal pengalaman organisasi karya ilmiah
sejak SMA, aku terus melatih dengan mengikuti ajang kompetensi baik tingkat
universitas, provinsi, maupun nasional. Diwaktu dekat ini, aku dan kedua
temanku berhasil lolos dalam perlombaan se-Asia Tenggara dan hebatnya baru
pertama kali inilah aku diberi kesempatan ke luar negeri dengan gratis. Berkat kerja
tim beranggotakan tiga orang, riset yang sedang kuteliti mengenai inovasi
formula “Allium cepa” [7]dari
limbah kulit bawang merah sebagai produk pestisida pembasmi ulat, berhasil
mengantarkanku mengunjungi negeri Sakura. Salah-satu negara maju di Asia
Tenggara.
Maksimalkan
minimalmu. Dengan aktif berprestasi entah dibidang apapun itu, manfaat yang aku
dapatkan semakin terbuka lebar. Wawasan pengetahuan semakin terpampang nyata
didepan. Aku yakin dan bertekad suatu saat nanti ilmu yang kudapat akan
bermanfaat dikemudian hari.
Dua tahun
kemudian...
Bangunan minimalis itu masih terlihat sama seperti
20 tahun yang lalu. Guratan ubin kayu dan panggrok bambu masih setia menghiasi
beranda rumahku. Perbedaan paling mencolok hanyalah pohon markisa yang kini
digantikan sulur-sulur tanaman anggur dan toko roti yang kini berdiri persis
didepan rumah.
Kini ia sudah hampir berkepala empat, namun
kecantikannya masih sempurna, sama seperti 10 tahun silam. Ketegarannya
menerjang hidup terus mengeras, membatu, bahkan membatu karang. Dia telah
sukses mengantarkan wisuda kelulusan sarjanaku. Purnamaku, begitulah aku
memanggilnya. Dan ketika kupanggil demikian, lesung pipinya benar-benar
menghias senyum manis diwajahnya. Cantik. Malam itu, rintik hujan ditingkahi
suara jangkrik menemani obrolan kami.
“Mbak, Cassava kan udah lulus cumlaude seperti yang
mbak inginkan. Sekarang bolehkan aku meminta Mbak Ikmal menepati janji?”
Tanyaku sambil menyandarkan kepala manja dibahunya yang sedang menyeduh teh.
“Janji apa to Va? Apa mbakmu ini masih punya janji
sama kamu hm?” Dia menatapku dengan dengan lesung pipi yang terlihat dikedua
sisinya.
“Mbak ini gimana to, apa Mbak Ikmal tidak
berkeinginan untuk memiliki pendamping hidup?” Ada gurat gelisah dalam wajahnya,
namun selalu saja ia mampu menutupi kegelisahannya dengan tegar. Selalu saja ia
menanggapinya dengan senyum.
“Kamu ini baru satu minggu lulus kok sudah ribut to
Nduk.” Mbak Ikmal seolah tau apa yang mengguntur dihatiku, aku berusaha
menjawab setenang mungkin. Kemudian aku mengumpulkan keberanian.
“Mbak, jadi Cassava diberi kesempatan melanjutkan jenjang
studi S-2 di Tokyo, tapi Sava ragu antara mengambilnya atau tidak. Sava bisa
saja tetap melanjutkan S-2 di Indonesia, tapi...” Kulihat ia yang mendengarnya
langsung menyerngitkan dahi
“Tapi apa?”
“tapi Mbak Ikmal bagaiamana? Siapa yang menemani
Mbak Ikmal nanti?” Aku menangis sesenggukan, kupeluk ia erat. “Nanti kesepian
gimana?.”
“Sssstt... Kamu ngomong apa to, coba pikirkan
kembali. Jika keputusanmu itu memang yang terbaik untuk masa depan kamu, kenapa
masih ragu? Jangan khawatirkan Mbakmu. Istiharahlah, Nduk. Semoga pilihanmu
yang terbaik.” Malam ini berakhir dengan kalimat itu. Aku hanya bisa menangis.
Satu bulan setelah itu, dibawah langit biru kota
kelahiranku, Yogyakarta. Kota istimewa yang akan selalu kurindukan. Akhirnya
perpisahan itu terjadi dengan linangan air mata kami. Satu jam lagi pesawat
keberangkatanku tiba. Dan aku masih tak henti-hentinya memandangi wajahnya.
Bismillah, dengan izin-Nya dan ridha Purnamaku, aku siap melangkah mantap dan
lurus menatap masa depan.
Terimakasih Purnamaku, semoga engkau segera menemukan
kebahagiaanmu. Mimpi seperti jalan berlubang. Arah dan terjal kerikil tajam kan
kulalui. Karena aku yakin bahwa sebesar apapun rintangan yang akan kuhadapi ke
depan, aku masih punya Allah yang jauh Maha Besar. Aku akan berjuang. Sampai
lelah itu lelah mengikutiku. Dan akan kupastikan lelah bukan alasanku untuk
mundur. Tokyo Institute Of Technology. Aku datang.
Bersambung....




0 komentar:
Posting Komentar