Senin, 09 Maret 2020

0 Cassava


Ketika kehidupan tak memberikan jawaban. Semua akan tetap tersimpan dalam pemikiran-pemikiran yang tiada arti. Kecuali sebuah pemikiran berujung aksi.


Di bawah mentari pagi, aku termenung di kursi bambu yang telah renta, dipayungi sulur-sulur daun markisa. Nampaknya pohon itu tumbuh subur meski aku dan kakakku jarang merawat. Bunyi lonceng sayup tedengar di seberang jalan tanda waktu masuk sekolah dimulai, kulihat dari kejauhan anak-anak SD memasuki gerbang dengan ceria sambil menyanyikan lagu baru yang diajarkan guru mereka. Yah guru SD, ingatan tentang seorang pahlawan tanpa tanda jasa, sabar, dan penuh kasih sayang yang telah berpulang 16 tahun silam...
Minggu pagi. Langit begitu cerah membiru hari itu. Jalanan terlihat ramai, sungguh memekakkan telinga. Kendaraan lalu lalang, sesekali kernet bus berteriak memanggil para penumpang setianya. Hari minggu memang istimewa, selain bagi para siswa, pun guru-gurunya. Setidaknya hari itu tidak ada agenda rapat dinas untuk seorang ibu guru SD sekaligus ibu untuk anak-anaknya. Ibu ini baru pulang berbelanja dari pasar, sesekali menggandeng tangan gadis sulungnya yang mulai beranjak remaja.
Namun, sampai di belokan persimpangan rumahnya, ia melihat kericuhan gaduh terjadi. Dan benar, rumah yang ia tinggalkan terbakar! Tiba-tiba ia teringat. Anaknya si bungsu yang baru berumur satu tahun berada didalam rumah itu. Bergegas sang ibu berlari secepat-cepatnya. Belanjaan ditangannya ia lemparkan. Si sulung menangis memanggil-manggil ibunya, sementara warga panik memadamkan api yang semakin berkobar menyala-nyala. Tak menghiraukan jika satu insan menyelinap nekat masuk kedalam rumah. Dia terobos kobaran api yang makin membesar. Demi menyelamatkan buah hatinya. Ia terluka. Berdarah-darah. Api membakar tubuhnya. Kepalanya terasa pening. Tertimpa genting dan reruntuhan puing. Tapi tidak peduli demi buah hati. Sakit tak dirasakannya. Ia terus menerobos mencari-cari. Kepulan asap membuat dada semakin sesak. Akhirnya dia dapati sang bayi. Terkapar dalam luka bakar.
Buru-buru ia gendong dalam rengkuhannya. Tertatih-tatih menerobos keluar dari api yang berkobar. Ia membelai sang anak, dan bergegas mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat. Berjibaku dengan waktu, seorang ibu yang tak secuil pun merasakan pedihnya sakit dan luka. Fokus pada buah hatinya. Permata hatinya. “Anakku... Anakku”. Cintanya begitu besar sampai ia baru menyadari, tubuhnya penuh luka bakar. Kepala, tangan, punggung dan kakinya sudah tidak menentu kondisinya. Sang ibu baru merasakan sakit ketika buah hatinya dalam penanganan medis. Dadanya sakit yang kian menyesakkan. Dan saat itulah takdir berkata lain. Setelah begitu lama tenggelam dalam komanya, ibunda tercinta telah berpulang kembali ke Pemiliknya.
“Sa.. kok ngelamun gitu? mikirin apa kamu?.” Tangan halus itu menyentuh kedua bahuku.
“Tidak mbak[1], hanya teringat ibu saja. Kadang aku masih menyesalkan hal itu.” Kuseka air yang kian memanas dimataku. “Ibu telah tiada demi menyelamatkanku dari petaka itu dan sekarang aku merindukan kasih sayang yang belum kurasakan sepenuhnya.” Kini air mataku meluncur deras.
”Sava, sudah jangan kau sesali itu. Semua sudah menjadi ketetapan-Nya, sudah menjadi kodrat-Nya. Kita sebagai manusia harus menerima dengan sabar dan menjalaninya dengan hati yang ikhlas. Allah tau apa yang terbaik untuk hambanya. Ingat Va, disini masih ada kakak yang selalu ada untukmu. Doakan yang terbaik untuk ayah dan ibu ya Va...”
“Iya mbak pasti.” Kupeluk Mbak Ikmal erat dalam dekapanku ketika air mata masih menetes membasahi jilbabnya.
“Udah beres semua barang bawaanmu? Kalau belum segera yuk Nduk[2], nanti ketinggalan kereta lho.” Dia menatapku lembut dengan mata bulatnya yang hitam, mata yang sangat kusukai.
“Udah kok mbak, udah beres semua tinggal berangkat aja.” Aku segera beranjak dari panggrok[3] bambu yang sedari tadi kududuki. Mbak Ikmal memang sengaja ingin mengantarkanku berangkat kuliah di sebuah universitas negeri di Solo. Langkah kaki kami mulai meninggalkan daerah Piyungan menuju Stasiun Tugu Jogja. Alhamdulillah berkat nilai rapor selama SMA, aku lolos SNMPTN sekaligus beasiswa penuh dari pemerintah selama empat tahun. Hal itu tentu meringankan beban Mbak Ikmal perihal biaya.
Mbak Ikmal. Sosok penuh arti dalam hidupku. Dia adalah kakakku, satu-satunya berbagi curahan hati. Dia adalah tulang punggung semenjak kami yatim piatu. Ayah mengalami kecelakaan sewaktu aku masih didalam kandungan. Mungkin itu alasan ibu menamaiku Cassava yang berarti singkong. Karena ayah sangat menyukai umbi singkong. Entahlah. Barangkali ibu ingin untuk mengenang ayah semasa hidupnya.
Aku masih ingat. Tanpa sedikitpun keluh kesah dengan masih mengenakan seragam putih abu-abu waktu itu, ia menyuapi nasi untukku yang masih TK. Dengan mengabaikan lelah ia kembali berkutat dengan gilingan gandum, melanjutkan usaha kue yang ia geluti. Kedua tangan kurusnya enggan berhenti, terus bergerak mengurus segala kebutuhanku, bahkan kadang ia rela menahan melilitnya perut asal aku tetap makan. Meski usaha roti kami tidak mampu berlari cepat sebagaimana pabrik-pabrik roti yang kian menjamur. Tetapi berkat kejujuran dan keuletan, usaha roti kami tetap bertahan. Tetap mendapatkan hati dikalangan pelanggan.
Walaupun begitu, keadaan inilah yang membuat semangatku melejit dalam menghadapi hidup. Alhamdulillah sejak SD kelas satu hingga kelas enam, aku selalu menempati rangking satu. Di SMP dulu pun aku juga mendapat peringkat memuaskan. Di kelas satu aku rangking dua, kemudian di kelas dua dan tiga selalu mendapat rangking pertama. Aku juga terpilih menjadi ketua OSIS di SMP dan sering diikutsertakan dalam berbagai ajang lomba baik tingkat provinsi maupun nasional. Dengan prestasi itu, setidaknya aku berhasil membuat Mbak Ikmal bahagia. Mbak Ikmal yang selalu mendoakanku agar kelak menjadi orang suskses.
Sejak duduk dibangku SMA, aku memang telah memutuskan untuk menjadi organisatoris[4]. Pengalamanku selama duduk dibangku sekolah membuat keputusan itu begitu kuat dalam hati dan pikiranku. Banyak hal luar biasa yang kudapat selama mengikuti organisasi. Sesuatu yang tidak kudapat selama masa belajar. Organisasi membuatku mengenal dan dikenal. Membuatku merasa tenang dan senang. Berimbang. Membuatku lebih sabar dan tegar. Membuatku lebih dihargai dan tentu lebih berarti. Mulai dari mengikuti OSIS, Bantara, Paskibra, dan seluruh organisasi di sekolah. Walaupun disibukkan dengan organisasi, pada akhirnya aku lulus dengan sangat memuaskan. Alhamdulillah berkat usaha, doa, dan niat kesungguhan tentunya.
“Maissy, kamu mau kemana?” tanyaku seusai mata perkuliahan Linguistik Umum hari itu.
“Emm, mau ke kantin nih. Ikutan yuk Va? Sekalian makan siang sama Hanggi dan Rendy?.” Tangan usil Maissy menarik-narik ujung kemeja Rendy.
“Heh Ren? Ngapain sih kamu ngeliatin hape terus dari tadi.” Tanya Hanggi sembari mendekati Rendy. Seolah-olah ingin tahu matanya melirik-lirik layar hape seperempat inci itu.
“Aku lagi sibuk nyiapin program kerja HMP nih. Kalian duluan aja ya.” Jawabnya setelah membenarkan kacamatanya yang melorot. Kacamata kuda. Batinku sambil tertawa dalam hati.
“Ehh, proker apaan nih kalau boleh tau? Seminar ya?” Ujarku sok tau.
“Tau aja kamu Sav, iyaaa niihhh temanya keren lhoo. Peran Generasi Muda Sebagai Agent of Repair [5]di Era Milenial!!” Teriaknya heboh sendiri, dengan gerakan bibir yang berlebihan dan bola mata yang digerakkan kekiri dan kekanan. Agak aneh memang kawanku satu ini.
“Wow keren, ikutan yuk gaes” Kulirik Maissy dan Hanggi bergantian. “Daripada nganggur ujung-ujungnya nongkrong gak jelas gitu loh” Terlihat raut muka keduanya memalingkan muka.
“Lagian nih ya Sav, emang kamu nggak capek ya. Organisasimu itu udah banyak. Kegiatanmu apalagi. Masih aja rajin ikutan seminar yang...” belum sempat Hanggi menyelesaikan kalimatnya, Maissy yang sedari tadi diam angkat bicara.
“Cassava, aku pengen tau. Alasan kamu ikut organisasi itu apa sih sebenernya Va?”
“Ya banyak hal positif yang kudapat dari organisasi. Salah satunya aku bisa memiliki banyak teman. Tidak hanya dari tingkat universitas, tapi juga dari berbagai kampus yang ada di Indonesia. Aku juga dapat ilmu, pengalaman, dan aku pun bisa mengunjungi banyak tempat indah dengan gratis. Enak kan?”
“Enak emang makanan” Celetuk Rendy.
“Terus bagaimana cara kamu mengatur waktu itu semua coba? Tugas iya,  belajar iya, gak pernah sakit? Otomatis istirahatmu kan cuma sebentar” Maissy bertanya lagi.
“Mahasiswa itu agent of change [6] Sy, tumpuan dan harapan masyarakat. Dipundak kitalah masyarakat menggantungkan masalahnya. Dan kita tentu saja tidak bisa mengabaikan hal itu. Kita tidak bisa hanya duduk, diam, dan melihat. Waktu yang kita miliki, pikiran yang kita miliki, tenaga yang kita miliki, semuanya bukanlah milik kita sepenuhnya. Tapi, ada hak orang lain disitu. Hak masyarakat. Dan sebagai mahasiswa, tentu saja kita berkewajiban untuk menunaikan hak itu.” Kuhela sedikit nafas dan berusaha meyakinkan mereka.
“Jadi, gimana?” Aku memecah keheningan yang sesaat lamanya menyelimuti.
“Apanya?” jawab Maissy, Hanggi, dan Rendy hampir bersamaan.
“Ya... dengan semua penjelasanku. Kalian masih meragukan manfaat organisasi? Masih gak mau ikut organisasi? Nggak bakal nyesel nih? Organisasi itu pengalaman dasar untuk terjun di masyarakat. Itu juga jadi salah satu hal yang akan ditanyakan jika nanti kalian wawancara kerja. Saat ini bukan IQ atau hasil ijazah yang nomer satu, kemampuan, keterampilan kalian juga dibutuhkan.” Aku berbicara menggebu-gebu memanasi mereka.
Dengan hal ini aku berharap teman-temanku dapat berubah, aku berharap dapat menjadi inspirasi bagi mereka. Perjalanan sebagai seorang mahasiswa tidak hanya terhenti sebagai mahasisa yang biasa saja. Mahasiswa dapat menentukan langkah-langkahnya untuk memilih sebagai mahasiwa biasa, maupun yang luar biasa. Karena sejatinya belajar itu tidak hanya belajar didalam kelas saja.
“Ya kita kan nggak bisa kaya kamu Sav. Antara organisasi, prestasi, semua jalan. Lha kita?” Ucap Hanggi ragu.
“Jangan gitu dong Nggi, setiap orang punya jalan juang masing-masing. Begitupula kalian. Lagian bermanfaat untuk orang lain dan untuk diri sendiri tidak harus ikut organisasi juga kok. Aku yakin kalian punya bakat minat yang bisa kalian kembangkan. Ikut UKM yang bisa menyalurkan bakat minat kalian deh. Sebelum semuanya terlambat hehehee.” Hiburku sambil tertawa.
“Hehehe, iya nanti deh siap. Sekarang kita makan siang dulu aja. Kasian udah bunyi terus tuh perutnya Maissy.” Kelekar Rendy. Aku hanya bisa tertawa dan menghela nafas sembari merangkul pundak kedua sahabat perempuanku itu. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini. Yang jelas aku hanya ingin mereka berubah lebih baik lagi.
Aku mengambil Fakultas Pertanian dengan jurusan Ilmu Teknologi Pangan. Kebetulan aku sangat menyukai dunia keilmiahan. Dengan bekal pengalaman organisasi karya ilmiah sejak SMA, aku terus melatih dengan mengikuti ajang kompetensi baik tingkat universitas, provinsi, maupun nasional. Diwaktu dekat ini, aku dan kedua temanku berhasil lolos dalam perlombaan se-Asia Tenggara dan hebatnya baru pertama kali inilah aku diberi kesempatan ke luar negeri dengan gratis. Berkat kerja tim beranggotakan tiga orang, riset yang sedang kuteliti mengenai inovasi formula “Allium cepa” [7]dari limbah kulit bawang merah sebagai produk pestisida pembasmi ulat, berhasil mengantarkanku mengunjungi negeri Sakura. Salah-satu negara maju di Asia Tenggara.
Maksimalkan minimalmu. Dengan aktif berprestasi entah dibidang apapun itu, manfaat yang aku dapatkan semakin terbuka lebar. Wawasan pengetahuan semakin terpampang nyata didepan. Aku yakin dan bertekad suatu saat nanti ilmu yang kudapat akan bermanfaat dikemudian hari.
Dua tahun kemudian...
Bangunan minimalis itu masih terlihat sama seperti 20 tahun yang lalu. Guratan ubin kayu dan panggrok bambu masih setia menghiasi beranda rumahku. Perbedaan paling mencolok hanyalah pohon markisa yang kini digantikan sulur-sulur tanaman anggur dan toko roti yang kini berdiri persis didepan rumah.
Kini ia sudah hampir berkepala empat, namun kecantikannya masih sempurna, sama seperti 10 tahun silam. Ketegarannya menerjang hidup terus mengeras, membatu, bahkan membatu karang. Dia telah sukses mengantarkan wisuda kelulusan sarjanaku. Purnamaku, begitulah aku memanggilnya. Dan ketika kupanggil demikian, lesung pipinya benar-benar menghias senyum manis diwajahnya. Cantik. Malam itu, rintik hujan ditingkahi suara jangkrik menemani obrolan kami.
“Mbak, Cassava kan udah lulus cumlaude seperti yang mbak inginkan. Sekarang bolehkan aku meminta Mbak Ikmal menepati janji?” Tanyaku sambil menyandarkan kepala manja dibahunya yang sedang menyeduh teh.
“Janji apa to Va? Apa mbakmu ini masih punya janji sama kamu hm?” Dia menatapku dengan dengan lesung pipi yang terlihat dikedua sisinya.
“Mbak ini gimana to, apa Mbak Ikmal tidak berkeinginan untuk memiliki pendamping hidup?” Ada gurat gelisah dalam wajahnya, namun selalu saja ia mampu menutupi kegelisahannya dengan tegar. Selalu saja ia menanggapinya dengan senyum.
“Kamu ini baru satu minggu lulus kok sudah ribut to Nduk.” Mbak Ikmal seolah tau apa yang mengguntur dihatiku, aku berusaha menjawab setenang mungkin. Kemudian aku mengumpulkan keberanian.
“Mbak, jadi Cassava diberi kesempatan melanjutkan jenjang studi S-2 di Tokyo, tapi Sava ragu antara mengambilnya atau tidak. Sava bisa saja tetap melanjutkan S-2 di Indonesia, tapi...” Kulihat ia yang mendengarnya langsung menyerngitkan dahi
“Tapi apa?”
“tapi Mbak Ikmal bagaiamana? Siapa yang menemani Mbak Ikmal nanti?” Aku menangis sesenggukan, kupeluk ia erat. “Nanti kesepian gimana?.”
“Sssstt... Kamu ngomong apa to, coba pikirkan kembali. Jika keputusanmu itu memang yang terbaik untuk masa depan kamu, kenapa masih ragu? Jangan khawatirkan Mbakmu. Istiharahlah, Nduk. Semoga pilihanmu yang terbaik.” Malam ini berakhir dengan kalimat itu. Aku hanya bisa menangis.
Satu bulan setelah itu, dibawah langit biru kota kelahiranku, Yogyakarta. Kota istimewa yang akan selalu kurindukan. Akhirnya perpisahan itu terjadi dengan linangan air mata kami. Satu jam lagi pesawat keberangkatanku tiba. Dan aku masih tak henti-hentinya memandangi wajahnya. Bismillah, dengan izin-Nya dan ridha Purnamaku, aku siap melangkah mantap dan lurus menatap masa depan.
Terimakasih Purnamaku, semoga engkau segera menemukan kebahagiaanmu. Mimpi seperti jalan berlubang. Arah dan terjal kerikil tajam kan kulalui. Karena aku yakin bahwa sebesar apapun rintangan yang akan kuhadapi ke depan, aku masih punya Allah yang jauh Maha Besar. Aku akan berjuang. Sampai lelah itu lelah mengikutiku. Dan akan kupastikan lelah bukan alasanku untuk mundur. Tokyo Institute Of Technology. Aku datang.


Bersambung....



About the Author

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions. If you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Twitter username

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top