Mau baca?
Ini adalah kisah yang
saya alami sendiri. Kejadian bermula saat saya masih aktif mengikuti
perkuliahan disalah satu universitas negri di Kota Solo. Sebut saja Ultramen
Ning Solo. Waktu itu saya masih manusia dan seperti biasa masih sibuk-sibuknya
(sok sibuk sebenarnya) mengikuti beberapa agenda rapat. Saat itu, Solo belum
ditetpakan sebagai status kejadian luar biasa (KLB) walau sempat kudengar isu
pasien positif corona di RS. Moewardi. Jadi ya masih mlancong sana-sini aja ya
kan.
Kebetulan agenda malam
Kamis ada rapat untuk persiapan KKN dibulan Juli-Agustus nanti, sebelumnya saya
pesan steak dan segelas es teh kampul disalah satu tempat makan daerah
Mojosongo. Entah perasaan tenggorakan saya terasa sakit seketika setelah
menyantap keduanya. Tapi tetap lanjuuuutkan makaann. Keesokan harinya, benar.
Tenggorokan saya tambah sakitnya, alhasil hanya membeli obat pereda nyeri
tenggorokan di apotek dekat kontrakan. Saya masih berada di Solo karena masih
ada beberapa urusan yang harus diselesaikan hingga tiba saatnya..akupun
melihat.. cintaku yang khianat cintaku berkhianat eee keblabasan nyanyi, ketauan pernah dikhianatin. Hingga tibalah pemerintah
kota Surakarta menyatakan kotanya berstatus KLB virus Corona pada Jum’at, 13
Maret 2020 setelah kabar resmi adanya warga Solo yang terjangkit virus
tersebut.
Yang ada dipikiran saya
saat itu hanyalah bagaimana nasib perkuliahan nantinya (heleh padahal mah ga mikirin apa-apa, mikirin kamu ajalah wkwk).
Setelah akhirnya kampus menurunkan surat edaran antisipasi penyebaran Chovid-19
akhirnya saya luntang-lantung mau ngapain ya hhh. Saat itu saya masih bermalam
minggu di kontrakan, mulailah badan saya merasa tidak nyaman. Dalam sehari tak
terhitung bersin berapa kali, endingnya meler tiada henti (auwachh pilek ges
pilek) disusul batuk dan demam panas tinggi. Saya memutuskan untuk pulang
kerumah keesokan harinya. Masih santuy dan tidak berpikir apa-apa bahkan soal
corona, tidak terbesit. Hanya saja, walau saya cuek-cuek gini..tapi endingnya
ada rasa cemas juga. Saya mengabari bulek saya terlebih dahulu kalau saya mau
pulang dan merasa tidak enak badan. Eh malah bulek saya yang over panik.
Sebelum sampai rumah
terbesit untuk membeli masker dan tissue. Masih kuat walau motoran sendirian
disamping badan terasa gembrebek adem
panas tak karuan. Dan akhirnya mampirlah di apotek pinggir jalan dekat rumah.
“Mbak ada masker?” tanyaku , “Ada mbak, tapi sekarang masker langka” jawab si
mbaknya apoteker. “Ya berapa harganya mba” jawabku sambil menahan hidungku agar
tak keluar meler wkwkw . “Per biji 8 ribu mba” Behh naiknya cepet
banget buesett, padahal sih biasanya harga normal perbiji hanya 1.000-1.500 sudah dapat satu
masker eceran. kan langka dillaaa wajar dongg gimana sihh. asudahlah gapapa, buat jaga-jaga biar ga nularin orang
rumah, bukan begitu kawan? Ya walau
lumayan buat beli semangkuk mie ayam masih dapet tuh. 1 masker = semangkuk mie
ayam. Huhuhu
Saya tak menyangka
begitu meletakkan helm diruang tamu, bulek saya datang kerumah dan berdiri
diujung pintu seraya berkata “Kamu sakit
opo Nduk? Nek watuk pilek lan panas gek ndang perikso, bahaya mudeng pora. Solo
corona” sambil menutup hidungnya. “Enggih bulek jawabku sentrap-sentrup.
Pilek. Dalam hati terasa sakit mendengarnya dan cemas itu muncul kembali. Saya
bingung harus bagaimana, dan keputusan terdekat yang bisa ambil adalah
mengurung diri di kamar !!! Saya mulai menggali informasi lebih mendalam mengenai
virus ini, diberbagai media massa, pamflet, channel berisi chovid-19 saya babat
habis. Gejala, perbedaan ciri, penanganan, dan lain sebagainya. Saya juga chat
teman-teman dan sahabat saya, bertanya pendapat mereka baiknya bagiamana. Ada
tiga tipe saran kurang lebih yang saya simpulkan. Pertama, kebanyakan sebagian
teman-teman mengusulkan untuk periksa terlebih dahulu ke puskesmas terdekat,
tapi ada sebagian lainnya malah mengusulkan saya untuk cek chovid di RS.
Moewardi untuk lebih meyakinkan sakit saya.
“Sebaiknya,
kamu periksa ke sana saja. Demi kebaikan dirimu dan orang lain juga tak ada
salahnya mencoba”. Gila saja pikirku. Hah masak aku
periksa ke Solo lagi? Disaat KLB seperti ini? Tidak. Disaat seperti itu, pikiran berkecambuk, khawatir, cemas.
Saya mulai membayangkan hal-hal menyeramkan diluar sana. Dan mulai membatasi
diri dengan orang rumah, bahkan saya menunggu malam tiba untuk pergi kekamar
mandi ketika semua sudah tertidur lelap. Untuk makan kuminta mereka menaruh
didepan pintu kamar saja. Tak mau merepotkan mereka dan menambah kekhawatiran
orangtua ketika mereka menyuruh untuk keluar kamar, hanya bisa menjawab “Takut
nularin ma, dikamar aja gapapa”.
Begitulah hari-hari saya yang begitu
menyedihkan. Hiksss cedihh ditengah berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa ini
hanyalah flu biasa gegara minum es kampul, yang nantinya akan sembuh
sendirinya. Pikiran masih saja was-was karena saat masih berada di Solo, saya
masih keluyuran ke beberapa tempat dimana disitulah daerah yang dikatakan
pasien positif virus corona. Hanya saja
mengenal perbedaan flu yang saya alami dengan chovid ini agak mengalami
kendala. Demam saya sudah menurun, tetapi saya masih sakit tenggorokan, pilek,
dan batuk. Tapi juga merasakan dada sesak. Ini yang menjadi masalah gaiss. Saya
merasa sesak, tetapi tidak begitu panas. Apakah karena batuk yang saya alami
ini agak berat hingga terasa sesak?
Adapula yang menyarankan dengan begitu menenangkannya. Tak lain dan tak
bukan ialah sahabat saya.
“Sudahlah
jangan terlalu panik dan terlalu dipikirkan, itu hanya flu biasa. Kamu akan
sembuh dengan sendirinya. Pesanku segera periksa, berobat. Jangan mengurung
diri dengan sangkaan mu sendiri. Yang penting jaga pola makan, istirahat cukup,
minum obat, dan tetap dirumah aja jangan kemana-mana dulu”.
Ah sungguh menenangkan
walaupun hal itu saran yang bisa dikatakan sederhana tetapi mampu meredam stres
saya disaat seperti ini. Oiya saya hampir 3-4 hari merasakan tak tenang
disamping flu yang tak kunjung mereda dan tugas kuliah online yang naudzubillah
ga ada akhlak di pekan pertama. Sampai muncul sariawan dibeberapa tempat.
(Maklum keturunan gen babe yang rajin sariawan, apalagi dibarengin stres
beuhh suka jama’ah)
Dari masukan
teman-teman itulah saya berpikir bahwa maksud mereka semuanya sebenarnya
sangatlah baik. Namun perasaan kitalah yang mampu menerjemahkan mana yang
sekiranya cocok dan pas untuk dilakukan. Bahkan saran yang baik sekalipun boleh
jadi berdampak sebaliknya jika hal itu tak sesuai dengan hati nurani kita. Jadi
saranku (kok malah ngasih saran sich) jika
kamu sakit saat-saat kondisi seperti ini, apalagi dengan gejala sakit flu,
demam panas, batuk dll. Please berceritalah dengan orang yang bisa kamu
percaya. Karena stigma si chovid ini emang bener-bener bikin kita jadi celimpung wkwkw kalo
gak kuat. Apalagi ditengah-tengah masyarakat yang notabennya siap siaga dan ya begitulah yaa.
Jaga kesehatan yaa..
Jangan suka sakit, karena Allah menyukai hambanya yang kuat. Kalau kuat ibadahnya kan lancar :)
Oiya teruntuk yang sudah mendoakan cepat sembuh, makasih kalian semua hehe. Dapet semangat buat sembuh lo itu tuh berharga <3




0 komentar:
Posting Komentar