Senin, 09 Maret 2020

0 Cerita Rara (Khusus Cerpen Anak)

Selamat Tinggal Kacamata Rara

Hallo teman-teman, perkenalkan namaku Rara, lengkapnya Ratuliu Naswara. Di
rumah, aku biasa dipanggil Rara. Teman-teman di sekolah juga memanggilku begitu.
Sekarang, aku masih sekolah di SDN II Tembalang, Semarang. Oya, aku lahir pada 28
Januari 2007. Jadi umurku sekarang 12 Tahun. Ayahku bernama Zulfikli Nareen dan
bundaku bernama Afifa Arafa. Sekarang aku tinggal di Tembalang, Semarang. Aku anak
terakhir dari 3 bersaudara. Kakakku yang pertama adalah Farhan Sadeka dan yang kedua
Farish Ifanda Bagas. Jadi aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Senang sekali
karena terkadang aku dimanja oleh kakak laki-lakiku. Hehehe asyik bukan.

Aku sangat menyukai cerita dongeng. Terutama Disney’s tentang binatang, seperti
Winnie the Pooh, The Lion King, Stitch, dan masih banyak lagi. Di kamarku banyak sekali
buku cerita, karena setiap minggu, Bunda membelikan satu buku untuk kubaca. Bahkan
boneka pun aku memilikinya.

Selain membaca buku, aku juga senang bermain bersama teman-teman satu komplek.
Aku suka sekali berenang, bermain sepeda, bermain lumpur disawah, dan memanjat pohon.
Seperti anak laki-laki saja ya? Tapi tidak apa-apa kan kalau anak perempuan bisa manjat
pohon juga? Aku senang di atas pohon, bisa duduk-duduk didahan sambil melihat ke bawah.
Serasa jadi paling tinggi deh! Hehehe.

Di sekolah aku juga memiliki banyak teman, tak jarang setelah pulang sekolah
mereka mampir kerumah untuk belajar kelompok maupun sekedar membaca buku cerita.
Meskipun setiap pagi sekolah umum, tiap seminggu sekali aku selalu menyempatkan les
melukis. Selain mendapat teman baru, tentu juga pengalaman baru karena dengan begitu, aku
jadi memiliki banyak teman dan pengetahuanku bertambah banyak. Terus kalau punya
banyak pengetahuan, aku bisa jadi anak pintar. Bukan begitu teman?

Sampai suatu hari dibulan April 2019, tepat pukul 19.30 WIB, pamanku dari Negri
Kincir Angin atau sebutan lain dari Negara Belanda datang ke rumah. Wah senang sekali
rasanya, aku mendapatkan banyak oleh-oleh dari Paman Isnan. Ada buku cerita, boneka
kartun, dan sebuah gadget berlayar sentuh. Hmmm....yang terakhir sungguh membuat hatiku
gembira! Karena selama ini aku belum pernah memegang barang yang satu ini tanpa pendampingan bunda. Lagipula bunda juga tidak akan memberikanku gadget karena aku
masih belum begitu membutuhkan.

Paman Isnan berpesan kepadaku untuk menggunakan gadget sesuai kebutuhan.
“Rara bisa membaca serial cerita dongeng di aplikasi gadget atau juga bisa belajar
melukis online”. Kata paman sembari menyentuh kepalaku.
“Siap Paman, terima kasih banyak hadiahnya, Rara senang sekaliii”. Ucapku girang
sambil membawa kotak yang menurutku sangat misterius itu.
“Waahhhh yang dapet hadiah baru nih, seneng banget keliatannya”. Teriak Kak
Farish terdengar kencang diujung sofa.
“Mana hadiahnya buat aku aja, kamu kan masih kecil. Buat aku aja dehh”. Canda
kakakku satunya, Kak Farhan mencoba merebut kotak itu dari tanganku.
“Hiiiiihhhh kakak kan udah dapet bagiannya sendiri-sendiri, kenapa masih usil sihh”.
Gerutuku sebal sambil menjulurkan lidahku. Walau aku tahu mereka hanya bercanda.
Hahaha.
“Ya sudah yuk, kita makan malam bersama, hari ini bunda masak spesial untuk
semua. Pasti suka!”. Kata bundaku melerai keributan kecil diantara kami.

Keesokan harinya... 06.30 WIB


“Ra..Rara berangkat kapan?” Teriak ayah dari bawah.
“Sebentar, Yah, inii mau turun,” kataku sembari menuruni tangga.
“Sarapan dulu Ra, minum susu dan jangan lupa bekalnya dibawa” Ayah
mengingatkan.
“Lho bunda kemana yah?” Tanyaku penasaran, kulihat sekeliling rumah nampak sepi.
Sementara kedua kakakku memang sudah berangkat pagi tadi.
“Bunda pergi ke pasar, nanti malam ada arisan keluarga. Jadi hari ini bunda sedikit
sibuk Ra”. Jawab ayah singkat.

Wah berarti nanti aku bisa main hape sendiri tanpa bunda! Batinku bersorak senang.
Memang semenjak Paman Isnan memberikanku gadget, aku cukup antusias untuk
mempelajarinya. Sejak saat itu pula, aku mulai belajar mengoperasikan layar hape dengan
bunda. Perlahan-lahan seiring berjalannya waktu, aku pun mulai mengerti tentang beberapa
fitur aplikasi. Entah bagaimana ceritanya aku mulai menyukai bermain game online.
Jarum jam menunjukkan angka 8 malam. Aku tak terusik degan keributan diluar,
karena di rumahku memang sedang ada acara, jadi aku beralasan mengerjakan PR dikamar.
Padahal aku sedang asyik bermain game dibalik selimut. Hihihi
Tookkk...tokk.. tokkk terdengar suara orang mengetuk pintu dari luar.
“Rara? Buka pintunya yuk, ayo keluar sebentar. Kamu ngapain dikamar terus dari
tadi?” teriak Bunda dari balik pintu. Aku tersentak, buru-buru kusembunyikan gadget dibalik
bantal micky mouse merahku. Fiuhhh untung pintu terkunci.
“Iya Bun sebentar lagiiii” Teriakku sambil berjalan ke arah pintu. Kubuka kunci
perlahan-lahan lalu menyusul bunda ke ruang tengah bersama keluarga besarku. Malam itu
aku langsung tertidur pulas setelah acara keluarga selesai.
“Ratuliu! Raraaa!, ayo bangun nanti terlambat sekolah” Ayah memanggil namaku
untuk segera bangun dari tidur nyenyakku. Uhhh rasanya masih ingin melanjutkan mimpi.
“Aduhhhh, ayah aku masih ngantukk” Aku menguap lebar-lebar sembari mengucek
mata. Aku merasa ada yang aneh dengan mataku, pandanganku terasa kabur dan lelah.
“Ya mau gimana kak, kan kakak harus sekolah...”
“Iya deh, iyaaaa” Aku menjawab dengan malas.
Sampai dikelas.....
“Anak-anak keluarkan PR kalian!” dengan nada yang datar tapi berwibawa. Bu
Yunda, wali kelas VI. Sontak aku menepuk jidatku. Aku lupa mengerjakan PR kawan!
Duhhhh gawat, semalam memang waktu belajar kuhabiskan untuk bermain HP, keringat
dingin mulai membasahi wajahku. Aku bingung sekaligus ketakutan, khawatir kalau-
kalau.......

“Anak-anak siapa yang tidak mengumpulkan PR Bahasa Indonesia?” Tanya Bu guru
Yunda. Akupun dengan ragu-ragu dan masih ketakutan karena sebelumnya aku selalu
mengerjakan PR ku.
“Saya Bu..” Kuangkat tangan kananku sambil menunduk dalam, tak berani menatap
bu Yunda.
“Kenapa tidak dikerjakan Ra?”
“Itu bu.., semalam ketiduran. Maaf bu..” Jawabku lirih
“Yasudah, lain kali jangan di ulangi lagi, sebagai gantinya nanti silahkan datang ke
kantor mengambil surat peringatan”. Fiuhhhh lega, eh tapi surat peringatan? Yah nanti ayah
bunda bakal tau kalau aku tak sempat mengerjakan PR. Ini yang aku khawatirkan.
Ketika mata pelajaran berlanjut. Pelajaran kesukaanku. Bahasa Inggris dengan Miss
Esa. Saat itu keadaanku awalnya baik-baik saja. Aku duduk dibangku ketiga dari depan meja
guru. Namun ketika aku melihat tulisan vocabullary yang ditulis Miss Esa, pandanganku
terasa aneh, huruf demi hurufnya seperti menari-nari dimataku. Awalnya aku biasa saja.
“Olin, pindah tempat yuk?” kupanggil temanku Olin yang duduk di depan papan tulis.

“Pindah gimana?”. “Ya pindah tempat, kita tukeran posisi ya? Mau kan Lin? bantu
aku, aku merasa ada yang aneh dengan mataku.” Bujukku dengan wajah memelas.
“Iya deh, boleh”. Akhirnya dia bersedia juga!
“Makasih Olin, hehehe”.
Sesampainya dirumah, aku langsung memberitahu bunda perihal penglihatanku, takut
terjadi apa-apa dengan diriku.
“Yasudah, sore nanti kita pergi periksa ke dokter. Tapi nunggu ayah pulang kerja dulu
ya Ra”. Jawab bunda
“Iya bunda gapapa, oiya bun tadi Bu Yunda titip surat buat ayah sama bunda. Ini...”
kusodorkan amplop berwarna putih.
“Surat apa Ra? Kok tumben bu Yunda nitip surat” nampak wajah bunda terheran
melihatnya. Matanya menyipit membaca surat itu. Nampaknya bunda kaget.

“Sejak kapan Rara tidak mengerjakan PR? Selama ini Rara belum pernah seperti ini
sebelumnya?”
“Itu Bun, kemarin Rara lupa ngerjain soalnya keasyikan main game...” Jawabku jujur.
“Ooo begitu, jadi selama ini Rara sering menatap layar gadget tanpa sepengetahuan
bunda? Iya? Pantas matamu cepat minus Rara” Bunda mencubit pipiku gemas.
“Nanti kita periksa apa memang benar matamu gejala minus”. Ujar bunda setelah
menasehatiku panjang lebar. Mulai sekarang bunda akan membatasi waktuku memegang
layar gadget teman.. huhuhu sedih rasanya.

Dan sore harinya setelah pak dokter memeriksa mataku, ternyata memang benar
teman. Berdasarkan pemeriksaan dokter, aku dinyatakan minus dan harus menggunakan
kacamata. Padahal aku tidak mau pakai kacamata, aku ingin mataku normal seperti sediakala.
Dan ini menambah kesedihanku. Aku merasa minder jika harus menggunakan kacamata
didepan teman-temanku.

Lambat laun aku pun mulai membiasakan bagaimana mengatur pola hidup sehat,
seperti kata bunda Rara. Walau awalnya terpaksa, lama-lama terbiasa dan membudaya.
Awalnya aku juga merasa sulit tapi lama kelamaan ternyata ringan juga lho teman!. Sampai
pada akhirnya setelah usahaku untuk rajin meminum jus wortel dan macam-macam sayuran
serta membatasi penggunan layar. Akhirnya mata minusku dinyatakan sembuh total! Waaahh
bahagia sekali aku bisa melihat dengan normal lagi tanpa kacmata tentunya.
Aku rasa tidak ada salahnya mencegah daripada mengobati lho teman. Sekarang
saatnya ku ucapkan selamat tinggal pada kacamata.....

About the Author

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions. If you like it Subscribe to Our Feed and Follow Me on Twitter Twitter username

    Other Recommended Posts

0 komentar:

Posting Komentar

 
back to top